📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Anggaran turun 15%, Pemkab Enrekang tetap prioritaskan belanja pegawai, menunjukkan kecermatan mengatur kantong daerah

Oleh: Edy Basri

Tahun 2025 lalu bisa jadi catatan unik dalam sejarah keuangan Pemkab Enrekang.

Berdasarkan data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025, total belanja daerah ditetapkan sebesar Rp1.047,55 miliar. Angka ini turun 15,58% dibandingkan tahun sebelumnya.

Turunnya angka belanja tentu bisa dimaknai banyak hal. Bisa karena efisiensi. Bisa juga karena kantong daerah sedang tipis, tapi ambisi tetap tinggi.

Yang menarik, pada Januari 2026, realisasi belanja daerah tercatat Rp631,93 miliar, setara 60,32% dari total anggaran 2025.

Artinya, lebih dari separuh sudah tersedot dalam bulan pertama. Entah tersedot untuk program publik atau untuk kebutuhan internal, data resmi tak pernah menolak interpretasi nakal kita.

Dari total belanja, Belanja Pegawai menjadi postur paling gemuk: Rp376,41 miliar. Hampir sepertiga dari total anggaran.

Kalau dikira-kira, setiap pegawai Pemkab Enrekang bisa saja merasa dimanja dengan angka ini. Bayangkan, anggaran turun 15%, tapi prioritas utama tetap memastikan perut pegawai kenyang, gaji lancar, dan tunjangan tetap ada.

Sementara masyarakat menunggu proyek jalan mulus, pasar lebih layak, atau layanan publik yang efisien, belanja pegawai tetap kokoh, tak tergoyahkan, ibaratnya pohon beringin yang kerap ada di halaman kantor bupati—tinggi, rindang, dan tak tersentuh panasnya kritik.

Anggaran berikutnya adalah Belanja Barang dan Jasa sebesar Rp123,54 miliar. Tak sebesar belanja pegawai, tapi cukup untuk membeli kursi baru, alat tulis mewah, kendaraan dinas, atau konsumsi rapat yang kadang lebih banyak dari jumlah peserta rapatnya.

Jika diteliti, belanja barang dan jasa ini bisa jadi ajang kreatifitas tanpa batas: dari pengadaan AC baru di kantor hingga konsumsi kopi robusta untuk rapat maraton.

Sementara rakyat menunggu program infrastruktur, anggaran ini tetap jalan sesuai rencana, elegan, dan… nyaman bagi yang berada di dalam kantor.

Belanja Modal tercatat Rp20,07 miliar. Angka yang bisa dibilang kecil dibanding total anggaran. Bayangkan, 20 miliar dari 1.047 miliar—hanya sekitar 2%.

Bersambung…….

Jika dianalogikan, belanja modal ini seperti jari di laut. Ada, tapi sangat kecil, hampir tidak terlihat. Jalan baru? Beberapa titik. Pasar modern? Sepersepuluh rencana. Infrastruktur? Hanya garis tipis di peta.

Masyarakat mungkin berharap banyak, tapi APBD memberi sedikit. Atau bisa jadi, pemerintah memang ingin menguji kesabaran rakyat—seperti memberi seteguk air dari sumur yang luas tapi tersembunyi.

Belanja Lainnya sebesar Rp11,19 miliar. Angka ini cukup untuk proyek-proyek misterius. Kadang muncul di berita, kadang hilang begitu saja. Mungkin untuk pelatihan soft skill, seminar strategis, atau pembelian souvenir acara penting.

Di sini terlihat, sebagian anggaran memang fleksibel. Bisa dipakai untuk kebutuhan rakyat, bisa juga… untuk kebutuhan internal yang tidak terlalu terlihat, tapi tetap membuat mata pegawai berbinar.

Jika ditarik garis satirnya, APBD Enrekang 2025 bercerita banyak hal:

  1. Prioritas Pegawai: Kantong internal tetap tebal, meski total anggaran turun.
  2. Belanja Modal Minim: Infrastruktur, fasilitas publik, dan proyek nyata tampak seperti “bonus” kecil.
  3. Belanja Lainnya Misterius: Fleksibel, kreatif, dan kadang jadi rahasia kabinet daerah.

Artinya, APBD adalah cermin: yang terlihat jelas adalah kepentingan internal, yang samar adalah kepentingan publik. Tidak salah kalau masyarakat kadang merasa “dikerjain” oleh angka yang tampak tinggi tapi terasa minim manfaat.

Anggaran turun, pegawai tetap sejahtera. Belanja modal minim, tapi janji proyek tetap megah di papan rencana. Belanja lainnya misterius, tapi mata birokrat berbinar.

Masyarakat? Mereka menunggu, sambil menaruh harap di meja makan, di jalan kampung, di pasar, dan di setiap layanan publik yang seharusnya disentuh APBD.

APBD 2025 Pemkab Enrekang bisa jadi cerita klasik: kantong internal tetap nyaman, ambisi tetap tebal, rakyat menunggu. (*)