Jakarta, katasulsel.com — Biasanya gudang kosong jadi masalah. Sekarang justru sebaliknya: gudang penuh.
Bahkan, Perum Bulog sampai harus menyewa 27 gudang tambahan. Termasuk di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Situasi yang jarang—bahkan bisa dibilang nyaris tidak pernah terjadi sebelumnya.
Di balik itu, ada satu angka kunci: 4,8 juta ton stok cadangan beras pemerintah (CBP) per April 2026.
Bukan sekadar naik. Ini lonjakan.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut kondisi ini sebagai perubahan besar dalam wajah pangan nasional. Kalau dulu gudang sering lowong, sekarang justru “tidak cukup”.
“Selama ini gudang tidak pernah penuh seperti sekarang,” katanya.
Fenomena ini memunculkan sisi unik yang jarang dibahas: tantangan baru justru datang dari keberhasilan itu sendiri.
Produksi naik. Penyerapan meningkat. Tapi kapasitas penyimpanan belum sepenuhnya siap menampung lonjakan.
Di daerah, situasinya terasa nyata. Di Konawe Selatan, gudang milik pemerintah daerah yang dulu jarang terpakai, kini ikut disulap jadi tempat penyimpanan beras.
“Gudang kami dulu sering kosong. Sekarang sudah dipakai semua,” ujar Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo.
Artinya, ada pergeseran pola. Dari yang sebelumnya kekurangan stok, kini berubah menjadi bagaimana mengelola “kelebihan” produksi.
Di Sulawesi Tenggara, Bulog memiliki 40 komplek gudang dengan kapasitas sekitar 120.000 ton. Tapi itu belum cukup menghadapi panen.
Akhirnya, opsi tercepat adalah menyewa gudang tambahan. Totalnya kini mencapai puluhan titik.
Langkah ini bukan tanpa risiko. Semakin banyak gudang, semakin besar pula tantangan dalam pengelolaan—mulai dari distribusi, kualitas penyimpanan, hingga efisiensi biaya.
Namun di sisi lain, ini juga menjadi sinyal bahwa rantai produksi pangan sedang bergerak aktif.
Stok besar bisa jadi kabar baik. Tapi jika tidak diimbangi distribusi yang lancar, efeknya bisa berbalik—harga jatuh di petani, tapi tidak selalu turun di pasar.
Di titik ini, pekerjaan belum selesai. Produksi tinggi hanyalah satu sisi. Sisi lainnya adalah bagaimana memastikan beras itu bergerak—dari sawah ke gudang, lalu ke pasar.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, persoalannya bukan lagi soal kekurangan.
Tapi bagaimana mengelola kelimpahan. (*)
