Konsel, katasulsel.com — Di tengah tantangan pangan, Sulawesi Tenggara memilih cara yang tidak biasa: bukan tambah lahan, tapi menambah “frekuensi tanam”.
Lewat Gerakan Panen Raya IP 200 di Kelurahan Potoro, Konawe Selatan, pemerintah mulai mendorong petani untuk menanam dua kali dalam setahun. Dari sini, satu pesan muncul: lahan yang sama harus bekerja lebih keras.
Hamparan 116 hektare di Potoro jadi contoh. Dari satu musim, kini ditarget dua musim. Artinya, produksi otomatis didorong naik tanpa harus membuka lahan baru.
Targetnya tidak kecil: 1 juta ton gabah di tingkat provinsi.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, Prof. Muhammad Taufik, menyebut pendekatan ini sebagai perubahan pola pikir dalam bertani.
“Bukan hanya luas lahan, tapi bagaimana lahan itu dimaksimalkan,” ujarnya.
Di sinilah sisi uniknya. Program IP 200 bukan sekadar teknis pertanian. Tapi juga “transformasi kebiasaan” petani.
Yang sebelumnya tanam satu kali, kini didorong dua kali. Artinya, ritme kerja berubah. Waktu tanam dipadatkan. Pengelolaan air harus lebih disiplin. Risiko juga ikut naik.
Untuk menopang itu, pemerintah tidak hanya datang dengan target. Tapi juga bantuan: pompa air, benih padi, hingga benih jagung.
Semua ini masuk dalam program Cetak Sawah Rakyat dari Kementerian Pertanian.
Di lapangan, bantuan ini bukan sekadar pelengkap. Tapi jadi “alat tempur” agar petani bisa mengejar ritme baru.
Karena tanpa air yang cukup dan benih unggul, IP 200 hanya akan jadi angka di atas kertas.
Di sisi lain, langkah ini juga memperlihatkan arah kebijakan baru. Di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sumangerukka, pertanian tidak lagi diposisikan sekadar sektor bertahan hidup.
Tapi didorong menjadi mesin ekonomi.
Artinya, petani tidak hanya diminta panen. Tapi juga dituntut menghasilkan lebih, lebih cepat, dan lebih efisien.
Tantangannya jelas. Perubahan pola tanam bukan hal mudah. Butuh adaptasi. Butuh pendampingan. Dan butuh konsistensi.
Namun jika berhasil, dampaknya besar. Bukan hanya untuk stok beras, tapi juga untuk pendapatan petani.
Karena di tengah ancaman perubahan iklim dan menyusutnya lahan, satu hal jadi pasti:
yang bertahan bukan yang punya lahan luas, tapi yang bisa mengelola lahan secara maksimal. (*)
