📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sidrap, katasulsel.com — Air tidak pernah lupa jalannya.
Ia selalu kembali ke ruang yang sama, pada musim yang sama, dengan cara yang hampir selalu serupa.

Di Kelurahan Pajalele, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang, ingatan air itu bernama banjir. Setiap hujan berkepanjangan, sungai yang mengalir di sekitar wilayah persawahan Lingkungan 1 dan 2 kerap meluap. Sawah terendam. Tanaman rusak. Pendapatan warga pun ikut tenggelam.

Persoalan ini bukan cerita baru. Ia berulang, nyaris rutin. Namun, selama ini sering diperlakukan sebagai takdir alam, bukan sebagai risiko yang bisa dipetakan.

Di titik itulah seorang mahasiswa datang membawa pendekatan berbeda.

Gamaliel Jhoni Sialla, mahasiswa Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin (UNHAS), yang sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tahun 2026 di Kelurahan Pajalele, menyusun program kerja individu berupa pembuatan peta rawan banjir sebagai alat mitigasi bencana.

Program tersebut dilaksanakan pada Jumat, 31 Januari 2026, bertempat di Kantor Kelurahan Pajalele, Kecamatan Tellu Limpoe.

Peta yang diserahkan bukan sekadar penanda wilayah administratif. Ia memuat gambaran fisik daerah rawan genangan, kontur lahan, kedekatan dengan aliran sungai, serta kawasan persawahan yang selama ini menjadi titik paling rentan ketika debit air meningkat.

Lurah Pajalele, Wahab Abdi Nur, S.IP., menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyebut peta ini sebagai langkah awal yang penting bagi kelurahan.

“Kelurahan Pajalele, khususnya Lingkungan 1 dan 2 di daerah persawahan, memang merupakan dataran banjir dan dekat dengan sungai. Ketika hujan terus-menerus dan berkepanjangan, air pasti meluap dan merusak tanaman warga,” ujar Wahab.

Menurutnya, keberadaan peta rawan banjir ini dapat menjadi dasar perencanaan yang lebih terarah, terutama dalam upaya perlindungan lahan pertanian warga.

“Program kerja ini menjadi awal agar ke depan Kelurahan Pajalele bisa lebih siap menghadapi bencana banjir, demi menjaga ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat,” tambahnya.

Bagi Gamaliel, peta tersebut adalah wujud penerapan ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah untuk menjawab persoalan nyata di lapangan. Ia berharap hasil kerjanya tidak berhenti sebagai laporan KKN, tetapi digunakan sebagai acuan dalam pembangunan dan penataan wilayah kelurahan.

Ia menaruh harapan sederhana namun penting: agar Kelurahan Pajalele perlahan bergerak menuju wilayah yang lebih siap, lebih sadar risiko, dan lebih tangguh menghadapi bencana banjir.

Kadang, mitigasi tidak harus menunggu proyek besar.
Ia bisa dimulai dari selembar peta—dan dari keberanian membaca ulang ingatan air.(*)