Sidrap, Katasulsel.com — Di saat ribuan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di berbagai daerah dilanda keresahan akibat ancaman “dirumahkan,” muncul secercah harapan dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) di Sulsel, dan Kabupaten Polewali Mandar (Polman) di Sulbar.
Bukan janji, ini fakta, keseriusan sekaligus bentuk keberpihakan nyata dari dua pemimpin daerah, Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif, S.IP., M.M. di Sidrap dan Bupati Polman, H. Samsul Mahmud di Polman akan nasib PPPK di wilayahnya masing-masing.
Bagi kedua bupati ini, ribuan PPPK yang sudah ada diraihnya bukan hadiah instan. Mereka berjuang bertahun-tahun sebagai tenaga honorer, menghadapi ketidakpastian, hingga lolos seleksi ketat—semua itu adalah bukti dedikasi dan ketekunan.
Kini, ketika isu pengurangan personel muncul, rasa aman mereka terguncang. Gelombang keresahan melanda. Banyak daerah masih ragu, takut mengambil sikap.
Namun di dua wilayah ini, cerita berbeda.
Dua Bupati, Satu Keberanian
Bupati Syaharuddin Alrif dan Bupati Samsul Mahmud tidak memilih diam.
Mereka memutuskan berpihak pada PPPK, menunjukkan bahwa pemerintah hadir untuk melindungi, bukan meninggalkan.
Langkah ini bukan sekadar administrasi. Ini adalah pernyataan moral yang kuat: bahwa kepemimpinan bukan hanya cerdas dalam kebijakan, tetapi teguh dalam keberanian.
Di saat sebagian daerah masih gamang, kedua pemimpin ini memastikan ribuan keluarga PPPK tetap memiliki kepastian hidup.
Keberanian kedua bupati ini menjadi cahaya bagi kepemimpinan nasional.
Empati dan keberpihakan mereka mengirim pesan penting:
“Seorang pemimpin sejati hadir di tengah keresahan rakyat, berdiri tegak saat yang lain mundur, dan memastikan perjuangan rakyat tidak sia-sia.”
Kini publik bertanya: inikah sosok pemimpin yang dibutuhkan Indonesia hari ini? Pemimpin yang tidak hanya duduk di balik meja, tetapi turun ke lapangan, mendengar, dan bertindak untuk rakyatnya.
Apa yang terjadi di Sidrap dan Polman bukan sekadar kebijakan lokal. Ini adalah teladan nasional—pengingat bahwa di tengah tantangan besar, selalu ada pemimpin yang memilih berani, berpihak, dan menjadi inspirasi bagi rakyatnya.
Di tengah keresahan dan ketidakpastian, dua wilayah ini membuktikan satu hal: kepemimpinan dengan hati selalu lebih kuat daripada sekadar aturan tanpa empati. (*)


