Sidrap, katasulsel.com — Di antara Amparita dan Teteaji, mengalir sebuah sungai yang dulu menjadi bagian penting kehidupan warga.

Namanya Sungai Amparita.

Kini, sungai itu tidak lagi seperti dulu.

Pelan-pelan, ia menyempit. Mendangkal. Dan mulai kehilangan daya tampungnya.

Dahulu, lebar Sungai Amparita mencapai sekitar 30 meter dengan kedalaman 5 hingga 7 meter. Airnya jernih, bahkan warga masih ingat bagaimana sungai itu menjadi tempat mandi, mencuci, hingga sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Dulu itu kami mandi di sini, airnya jernih sekali. Bisa juga dipakai minum,” kenang Abdul Rahman (58), warga Amparita, saat ditemui di sekitar aliran sungai.

Namun kondisi itu kini berubah jauh.

Lebar sungai menyusut menjadi sekitar 10 hingga 15 meter. Kedalamannya pun tinggal sekitar 1 hingga 1,5 meter.

Perubahan itu bukan hanya terlihat di mata, tapi juga terasa dampaknya.

Setiap kali hujan deras turun, air cepat meluap. Genangan bahkan banjir di kawasan sekitar pesisir menjadi ancaman yang tidak bisa dihindari lagi.

“Kalau hujan besar sekarang, kami sudah mulai khawatir. Air cepat naik,” ujar Sitti Aminah (52), warga lainnya.

Warga menyebut perubahan ini terjadi perlahan dalam dua dekade terakhir.

Tidak tiba-tiba, tapi pasti.

Sungai yang dulu menjadi tempat bermain anak-anak dan pusat aktivitas warga, kini lebih sering menjadi sumber kecemasan.

“Sekarang sudah dangkal sekali. Dulu dalam, orang masih bisa berenang,” tambah Abdul Rahman.

Fenomena ini membuat warga berharap ada perhatian serius terhadap kondisi sungai tersebut, sebelum dampaknya semakin meluas ke pemukiman.

Sungai Amparita kini bukan hanya soal aliran air.

Tapi juga soal ingatan masa lalu, dan kekhawatiran masa depan. (*)

Gambar berita Katasulsel
🔴 Update Sidrap: Lihat semua berita Sidrap