Sidrap, katasulsel.com — Kalau ada daerah yang bisa bercerita tentang “masa lalu dan masa depan” dalam satu lanskap, maka Sidenreng Rappang—atau Sidrap—adalah salah satunya.

Di sini, hamparan sawah luas tidak hanya menjadi pemandangan, tapi juga denyut kehidupan. Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan ini dikenal sebagai lumbung beras utama Indonesia Timur, tempat di mana sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari tanah yang setiap musim selalu memberi harapan.

Namun Sidrap tidak berhenti di masa agraris.

Di kejauhan, di perbukitan Kecamatan Watang Pulu, berdiri deretan kincir angin raksasa PLTB Sidrap yang berputar pelan mengikuti arah angin. Pemandangan ini sering membuat orang berhenti sejenak—karena di satu sisi ada sawah yang tradisional, di sisi lain ada simbol energi masa depan.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Inilah Sidrap: dua dunia yang berjalan berdampingan.

Tanah Dua Kerajaan yang Menyatu Jadi Satu Identitas

Sidrap lahir dari sejarah panjang dua kerajaan Bugis: Sidenreng dan Rappang. Dari penyatuan inilah kemudian tumbuh sebuah kabupaten yang tidak hanya kuat secara administratif, tetapi juga kaya secara budaya.

Masyarakatnya masih memegang teguh nilai Bugis yang sederhana tapi dalam:
Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling menghormati), Sipakainge (saling mengingatkan).

Nilai itu bukan sekadar slogan—ia hidup dalam keseharian warga, dari sawah sampai ruang pemerintahan.

Bumi Nene Mallomo: Hukum Adat yang Masih Jadi Ingatan

Sidrap juga dikenal sebagai Bumi Nene Mallomo, tokoh adat Bugis yang melegenda karena ketegasan hukum tanpa pandang bulu.

Cerita tentangnya masih sering disebut ketika orang berbicara soal keadilan. Seolah Sidrap ingin mengingatkan bahwa hukum dan kejujuran adalah fondasi yang tidak boleh hilang, meski zaman terus berubah.

Lumbung Pangan yang Tidak Pernah Diam

Jika dilihat dari udara, Sidrap seperti lautan hijau yang tidak putus. Sawah di mana-mana, aktivitas pertanian yang tak pernah benar-benar berhenti.

Di balik itu, Sidrap menjadi salah satu penopang pangan Sulawesi Selatan bahkan Indonesia Timur. Dari padi, jagung, hingga peternakan ayam petelur, ekonomi daerah ini bergerak dari tanah yang terus diolah.

PLTB Sidrap: Saat Angin Menjadi Energi

Namun yang membuat Sidrap sering disebut di tingkat nasional adalah satu hal: energi angin.

PLTB Sidrap bukan hanya pembangkit listrik. Ia adalah simbol bahwa daerah pertanian pun bisa berdiri di garis depan energi modern.

Kincir angin putih yang berdiri di atas bukit itu kini menjadi ikon baru—tempat orang datang bukan hanya untuk melihat teknologi, tapi juga untuk merasakan perubahan zaman.

Dari Nasu Palekko hingga Aroma Pedas yang Melegenda

Sidrap juga punya cerita lain yang tidak kalah kuat: kuliner.

Satu nama yang hampir selalu muncul adalah Nasu Palekko—olahan bebek cincang dengan rasa pedas yang “jujur tanpa kompromi”.

Di warung-warung sederhana hingga rumah makan legendaris, hidangan ini menjadi bukti bahwa orang Sidrap punya karakter kuat: sederhana, tapi berani rasa.

Sidrap Hari Ini: Tradisi Tidak Hilang, Modernisasi Tidak Ditolak

Yang menarik dari Sidrap bukan hanya apa yang dimilikinya, tapi bagaimana semuanya hidup berdampingan.

Sawah tetap hijau, kincir angin terus berputar, adat tetap dijaga, dan masyarakat tetap bergerak mengikuti zaman.

Sidrap bukan daerah yang memilih antara tradisi atau modernisasi.

Ia memilih dua-duanya. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita