Makassar, katasulsel.com — Ada pesan simbolik yang sulit diabaikan ketika Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin memilih Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai lokasi rapat kerja. Ini bukan sekadar agenda rutin kampus. Ini seperti penanda arah baru: Sidrap mulai dibaca sebagai daerah dengan energi pertumbuhan yang serius.

Daerah yang dulu identik dengan hamparan sawah dan lumbung beras itu, perlahan masuk dalam peta percakapan akademik.

Pilihan Pascasarjana Unhas menjadikan Sidrap sebagai titik konsolidasi program dianggap bukan kebetulan. Ada daya tarik baru yang sedang tumbuh di daerah berjuluk Bumi Nene Mallomo tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sidrap memang terlihat agresif membangun citra sebagai daerah modern berbasis pertanian, pendidikan, dan penguatan sumber daya manusia.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Kolaborasi dengan perguruan tinggi pun terus diperluas.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sidrap juga telah menjalin berbagai kerja sama strategis dengan Universitas Hasanuddin dalam pengembangan tridarma perguruan tinggi, penguatan SDM, layanan kesehatan hingga riset terapan.

Kini, langkah itu seperti naik satu level.

Rapat kerja Pascasarjana Unhas di Sidrap dibaca sebagai bentuk pengakuan bahwa daerah ini tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi mulai diposisikan sebagai mitra strategis dunia akademik.

Fenomena ini menarik.

Biasanya, forum akademik besar cenderung memilih kota besar dengan fasilitas lengkap dan akses metropolitan. Namun Sidrap justru muncul sebagai pilihan. Itu menandakan ada faktor kepercayaan, stabilitas, dan potensi kolaborasi jangka panjang.

Di balik agenda formal rapat kerja, tersimpan peluang besar bagi daerah.

Kolaborasi kampus dan pemerintah daerah hari ini bukan lagi sekadar seremoni MoU. Paradigmanya sudah berubah menjadi knowledge partnership — kemitraan berbasis pengetahuan.

Daerah membutuhkan riset.

Kampus membutuhkan ruang implementasi.

Sidrap terlihat sedang menawarkan keduanya.

Apalagi, Unhas sendiri dalam beberapa kesempatan menegaskan pentingnya menghadirkan inovasi riset yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai sektor kesehatan, pertanian, hingga pengembangan ekonomi lokal.

Di titik inilah Sidrap memiliki modal kuat.

Daerah ini sedang bergerak cepat. Pertanian modern, penguatan IP300, hilirisasi pangan, digitalisasi pelayanan, hingga pengembangan SDM menjadi narasi yang terus dibangun pemerintah daerah.

Karena itu, ketika Pascasarjana Unhas hadir, banyak pihak melihatnya bukan sekadar kunjungan akademik.

Ini lebih mirip proses “penanaman jangkar” intelektual.

Ada harapan lahir riset-riset yang tidak hanya selesai di meja seminar, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Mulai produktivitas pertanian, tata kelola pemerintahan, ekonomi desa, pendidikan, sampai isu kesehatan masyarakat.

Dan Sidrap tampaknya ingin mengambil peran lebih besar dalam proses itu.

Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, sebelumnya juga beberapa kali menegaskan pentingnya membangun daerah berbasis ilmu pengetahuan dan penguatan SDM. Bahkan, ia pernah menyampaikan keinginannya agar Sidrap kembali melahirkan banyak profesor dalam beberapa tahun mendatang.

Kalimat itu kini terasa menemukan konteksnya.

Sebab daerah yang ingin maju tidak cukup hanya membangun jalan dan gedung. Ia juga harus membangun ekosistem pengetahuan.

Dan hari ini, Sidrap tampaknya sedang menuju ke sana. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.