Jakarta, Katasulsel.com – Sejarah sudah tercipta di Brasil, Veda Ega Pratama menjadi pebalap Indonesia pertama yang meraih podium di kelas Moto3.
Namun, kesuksesan itu hanya jeda singkat.
Fokus kini beralih ke Circuit of the Americas (COTA), Austin, Amerika Serikat, yang dikenal sebagai salah satu sirkuit paling menantang di kalender Moto3.
Jelas. Bagi Veda, COTA bukan sekadar lintasan baru.
Tanjakan curam di tikungan pertama, rangkaian tikungan cepat yang menuntut presisi, serta permukaan lintasan bergelombang menjadi ujian serius bagi kontrol motor dan ritme balap.
Suhu Texas yang panas mempercepat degradasi ban, sementara angin kencang dan variasi kecepatan lintasan menambah kompleksitas strategi balapan.
“Ya tentunya saya akan mencoba yang terbaik, fight di rombongan depan lagi. Ini sirkuit baru, tapi pengalaman Brasil jadi modal penting,” ujar Veda dengan penuh percaya diri.
Prestasi di Brasil—podium pertama, 27 poin dari dua seri awal, dan posisi tiga klasemen sementara—memberikan modal psikologis yang kuat, tapi fisik dan teknis akan diuji di Texas.
COTA menuntut kombinasi agresivitas, presisi, dan stamina. Tikungan pertama memaksa pembalap menyeimbangkan kecepatan start dengan risiko kehilangan kontrol, sementara sektor cepat beruntun menuntut steering konsisten.
Tikungan akhir menuntut traksi maksimal, membuat manuver menyalip berisiko tinggi. Semua faktor ini membuat Texas bukan sekadar sirkuit, tapi arena ujian bagi keberanian dan skill Veda Ega.
Bagi Indonesia, perjalanan Veda Ega bukan hanya soal balapan. Ini kisah pemuda berani bermimpi, mencetak sejarah, dan siap menghadapi tantangan berat berikutnya.
Dari podium Brasil ke tikungan curam Texas, semua mata kini tertuju pada pemuda Wonosari ini—bisa kah dia menaklukkan COTA dan menambah catatan sejarah? (*)


