📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMakassar, Katasulsel.com – Jagat media sosial Makassar mendadak panas. Bukan karena politik atau razia besar-besaran, tapi gara-gara video dua selebgram yang terekam saling rebut tabung “Whip Pink” sampai keduanya terlihat mabuk dan sempoyongan.
Video itu beredar luas sejak awal pekan ini. Dalam rekaman yang viral, dua perempuan yang dikenal sebagai influencer lokal tampak bergantian menghirup gas dari tabung berwarna pink. Suasana yang awalnya seperti candaan berubah jadi tontonan tak biasa. Tawa lepas, tubuh oleng, hingga akhirnya keduanya terlihat terkapar di area garasi rumah.
Publik langsung riuh. Kolom komentar meledak. Ada yang menyebutnya “nge-fly demi FYP”, ada pula yang menyindir sebagai konten cari sensasi. Sebagian warganet bahkan ramai-ramai menandai akun kepolisian dan BNN, meminta agar kasus itu ditindaklanjuti.
Belakangan diketahui, tabung yang digunakan adalah nitrous oxide (N₂O), gas yang lazim dipakai dalam industri kuliner untuk membuat whipped cream dan juga digunakan di dunia medis sebagai anestesi ringan. Produk tersebut bukan barang terlarang. Namun jika dihirup langsung tanpa pengawasan, risikonya bukan main.
Kapolrestabes Makassar memastikan pihaknya telah memantau video tersebut dan sedang melakukan pendalaman. Polisi mengingatkan agar masyarakat tidak menyalahgunakan produk yang sejatinya memiliki fungsi tertentu.
“Kami mengimbau agar digunakan sesuai peruntukannya. Penyalahgunaan tentu bisa berdampak pada kesehatan,” ujar pihak kepolisian.
Balai Besar POM Makassar dan BNNP Sulawesi Selatan juga ikut angkat suara. Secara medis, menghirup nitrous oxide secara berlebihan bisa mengurangi kadar oksigen dalam darah. Efek euforia yang muncul hanya sementara, tetapi jika dilakukan terus-menerus dapat memicu gangguan saraf hingga risiko gangguan pernapasan.
Yang menarik, kasus ini bukan sekadar soal dua orang yang mabuk. Ini soal bagaimana standar “keren” di era digital kadang bergeser jauh. Ketika konten ekstrem lebih cepat viral, ketika sensasi instan lebih menjanjikan engagement, batas antara hiburan dan bahaya jadi kabur.
Makassar sebagai kota besar dengan geliat influencer yang terus tumbuh tentu tak asing dengan budaya konten. Namun ketika figur publik media sosial mempertontonkan aksi berisiko, efeknya bisa menjalar luas. Followers muda yang melihat bisa saja menganggap itu sekadar tren—padahal konsekuensinya nyata.
Kini aparat masih mendalami kemungkinan pelanggaran yang terjadi. Sementara publik sudah terlanjur menilai. Viral memang cepat. Sensasi memang instan. Tapi jejak digital dan dampaknya, bisa jauh lebih panjang dari sekadar tawa beberapa menit.
Whip Pink mungkin hanya tabung kecil berwarna mencolok. Tapi ketika ia berubah fungsi jadi alat euforia, yang dipertaruhkan bukan cuma reputasi—melainkan juga keselamatan. (*)








Tinggalkan Balasan