Sidrap, katasulsel.com — Tahun lalu, hamparan lahan di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidenreng Rappang itu masih terlihat biasa saja.

Sebagian petani bahkan sempat ragu.

Lahan yang baru dicetak lewat program Cetak Sawah Rakyat (CSR) tahun 2025 itu dianggap butuh waktu lama untuk benar-benar “hidup”.

Ada yang bilang, “ah, tunggu saja beberapa tahun baru terasa hasilnya.”

Tapi 2026 datang membawa cerita berbeda.

Di atas lahan yang dulu masih diragukan itu, kini petani sudah panen.

Dan bukan panen biasa.

Hasilnya tembus 7,2 ton per hektare.

Sebuah angka yang langsung mengubah wajah para petani di lapangan.

Senyum yang sebelumnya setengah percaya, kini berubah jadi tawa lepas.

“Tidak menyangka secepat ini bisa panen seperti ini,” begitu gambaran yang terdengar dari para petani di sela-sela panen perdana.

Yang paling terasa bukan hanya hasilnya.

Tapi rasa percaya.

Bahwa lahan baru itu ternyata bukan sekadar proyek.

Tapi benar-benar jadi sumber kehidupan baru.

Di tengah suasana panen itu, Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif hadir langsung.

Tidak banyak basa-basi.

Ia berdiri di tengah petani, melihat langsung hasil kerja yang setahun lalu masih berupa harapan.

Bagi Syaharuddin, ini bukan sekadar angka produksi.

Ini soal perubahan cara pandang.

Bahwa pertanian tidak boleh jalan biasa-biasa saja.

Harus naik kelas.

Harus terhubung dengan peternakan.

Harus jadi sistem, bukan sekadar lahan garapan.

Petani terlihat antusias.

Ada yang tertawa sambil menunjuk hasil panen.

Ada yang bercerita tentang masa-masa awal saat lahan itu baru dicetak—tanah yang belum stabil, air yang belum tertata, dan rasa ragu yang masih kuat.

Tapi waktu menjawab semuanya.

Kini, yang tersisa hanya rasa puas.

Hasil 7,2 ton per hektare itu bukan sekadar data.

Bagi petani, itu bukti.

Bukti bahwa kerja tidak mengkhianati hasil.

Bukti bahwa lahan yang dulu diragukan, kini justru jadi sumber harapan baru.

Di sisi lain, pemerintah daerah melihat ini sebagai momentum.

Bukan hanya keberhasilan satu musim.

Tapi awal dari model baru ekonomi desa.

Pertanian yang tidak berdiri sendiri.

Yang tersambung dengan peternakan, dengan perputaran ekonomi yang lebih hidup.

Di sela panen, suasana terlihat cair.

Petani dan pemerintah tidak berjarak.

Semua larut dalam satu momen yang sama: panen perdana yang lebih cepat dari dugaan.

Dari tanah yang dulu diragukan, kini tumbuh keyakinan baru.

Dan dari situlah, cerita Sidrap hari ini mulai berubah. (*)

Gambar berita Katasulsel