Sidrap, Katasulsel.com – Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang mulai menggeser arah pembangunan ekonomi berbasis desa. Bukan lagi berjalan sendiri-sendiri, sektor pertanian dan peternakan kini didorong untuk “dikawinkan” demi menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

Pesan itu ditegaskan langsung oleh Syaharuddin Alrif saat memimpin panen perdana program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Selasa (14/4/2026).

Syaharuddin mengatakan, hasil panen yang mencapai 7,2 ton per hektare yang dicetak tahun 2025 itu menjadi bukti bahwa sektor pertanian bergerak positif. Namun bagi Syaharuddin, angka itu belum cukup jika tidak diikuti penguatan sektor lain yang saling terhubung.

“Pertanian harus terintegrasi dengan peternakan. Di situlah nilai tambah ekonomi terbentuk,” tegasnya.

Logikanya sederhana tapi strategis. Limbah pertanian bisa menjadi pakan ternak, sementara hasil peternakan dapat mendukung produktivitas pertanian. Siklus ini menciptakan efisiensi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Tak hanya bicara konsep, Pemkab juga mendorong penguatan modal melalui skema Bank Sulselbar lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Sidrap, Ahmad Dollah, menilai akses pembiayaan menjadi kunci agar peternak bisa naik kelas—dari skala kecil ke produksi yang lebih besar dan kompetitif.

“KUR ini peluang besar. Bisa untuk tambah populasi ternak, perbaiki pakan, hingga meningkatkan kualitas produksi,” jelasnya.

Dari sisi perbankan, kemudahan akses dengan bunga rendah menjadi daya tarik utama. Skema ini dirancang agar pelaku usaha tidak lagi terhambat di modal awal, yang selama ini menjadi kendala klasik di sektor peternakan.

Secara analitis, langkah integrasi ini menunjukkan perubahan pendekatan: dari sekadar produksi ke sistem ekonomi berbasis ekosistem. Artinya, setiap sektor tidak berdiri sendiri, tetapi saling menopang.

Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah hingga kelompok tani dan peternak—menandakan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama.

Kini tantangannya ada pada eksekusi. Integrasi sektor bukan hanya wacana, tetapi membutuhkan konsistensi, pendampingan, dan pengawasan agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Jika berjalan sesuai arah, Sidrap tidak hanya kuat di pertanian, tetapi juga mampu membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi.(*)

Gambar berita Katasulsel