Sidrap, katasulsel.com — Biasanya kunjungan pejabat tinggi identik dengan sambutan formal dan rapat singkat di ruang kerja. Tapi berbeda dengan kunjungan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Dr. Sila H. Pulungan ke Kejaksaan Negeri Sidenreng Rappang (Sidrap) pada Senin, 18 Mei lalu.

Meski sudah berlangsung beberapa hari, namun kunjungan itu masih ramai diperbincangkan di lingkungan Adhyaksa Sulsel karena gaya sidaknya yang cukup “turun ke detail”.

Begitu tiba di kantor Kejari Sidrap, Kajati tidak langsung duduk di ruang pertemuan. Ia justru keliling kantor—masuk ruang pelayanan, ruang kerja, ruang barang bukti, sampai kantin. Bahkan fasilitas yang sering luput dari perhatian, seperti kebersihan WC, ikut dicek langsung.

Rombongan yang ikut mendampingi antara lain Asisten Pembinaan Abdillah, Asisten Intelijen Ferizal, serta Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Sulsel. Mereka disambut Kajari Sidrap, Adi Kusumo Wibowo, bersama seluruh jajaran.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Dari laporan internal, Kejari Sidrap saat ini memiliki 45 pegawai. Anggaran tahun 2026 mencapai Rp7,92 miliar dengan realisasi sekitar 43 persen hingga pertengahan Mei. Namun yang jadi sorotan bukan hanya angka—melainkan cara kerja dan kondisi lapangan yang dicek langsung tanpa “jarak”.

Di sela kunjungan, Kajati juga menyoroti soal fasilitas kerja. Mulai dari meja, kursi, hingga ruang pelayanan. Menurutnya, hal-hal sederhana justru sangat berpengaruh pada pelayanan ke masyarakat.

“Kalau tempat kerja nyaman, kerja juga enak, pelayanan ke masyarakat pasti ikut bagus,” begitu pesan yang disampaikan.

Hal lain yang juga jadi perhatian adalah soal arsip. Kajati menegaskan, sudah saatnya dokumen tidak lagi menumpuk dalam bentuk kertas. Ia mendorong sistem digital agar lebih rapi, cepat dicari, dan tidak bikin ruangan penuh map.

Sementara itu, Asisten Pembinaan Abdillah menekankan hal yang cukup “menyentuh dapur kantor”: anggaran, aset lama, hingga penghematan listrik. Bahkan pola kerja WFH tiap Jumat juga kembali diingatkan agar benar-benar dijalankan sesuai aturan.

Di sisi lain, Asisten Intelijen Ferizal memberi pesan keras tapi sederhana: jangan main-main dengan jabatan.

“Tidak boleh ada transaksi dalam tugas hukum. Jaga nama baik institusi,” tegasnya.

Ia juga meminta intelijen daerah lebih aktif membaca situasi lapangan agar Sidrap tetap aman dan tidak ada gejolak yang tidak perlu.

Kunjungan itu dianggap bukan sekadar agenda kerja biasa. Cara Kajati turun langsung, dari ruang pelayanan sampai WC kantor, membuat kunjungan ini dinilai “beda dari biasanya” dan berpotensi jadi sorotan luas di internal kejaksaan maupun publik. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita