Jakarta, Katasulsel.com — Dalam politik Indonesia, kritik sering dianggap serangan. Oposisi kerap diposisikan sebagai ancaman. Tetapi suasana berbeda justru muncul dari mulut Presiden Prabowo Subianto.
Ia berterima kasih kepada PDIP.
Partai yang selama ini cukup keras mengkritik pemerintahannya justru diberi apresiasi di forum resmi negara. Bukan di ruang tertutup. Bukan lewat juru bicara. Tetapi langsung di rapat paripurna DPR.
Kalimat itu kemudian memantik tafsir politik.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Ada yang melihatnya sebagai pesan rekonsiliasi. Ada yang membacanya sebagai upaya meredakan suhu politik nasional. Ada pula yang menilai Prabowo sedang membangun gaya kepemimpinan yang lebih matang: tidak lagi alergi terhadap kritik.
Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, bahkan menyebut ucapan Presiden itu keluar dari “lubuk hati paling dalam”. Ia menilai apresiasi kepada PDIP dan Megawati merupakan ungkapan yang tulus.
Di sinilah sisi menariknya.
Politik Indonesia selama ini lebih akrab dengan narasi “kawan atau lawan”. Hitam atau putih. Pendukung atau pengganggu. Tetapi pidato Prabowo justru memperlihatkan sesuatu yang jarang terdengar dari penguasa: pengakuan bahwa demokrasi membutuhkan pengawasan.
Prabowo bahkan mengakui, dirinya sebenarnya lebih nyaman jika semua partai berada dalam pemerintahan. “Gotong royong,” begitu istilah yang ia gunakan. Namun ia sadar, pemerintahan tanpa kritik justru bisa berbahaya.
Ini bukan sekadar kalimat normatif.
Dalam ilmu politik, sikap menerima kritik dari oposisi disebut sebagai bagian dari democratic maturity — kedewasaan demokrasi. Sebab kekuasaan yang terlalu nyaman biasanya perlahan kehilangan rem.
Dan PDIP, sadar atau tidak, kini memainkan peran itu.
Menariknya lagi, respons PDIP juga tidak memperkeruh suasana. Politikus PDIP, Aria Bima, menegaskan posisi partainya sebagai “mitra strategis” pemerintah. Bukan oposisi yang asal menyerang, tetapi pengkritik yang tetap menjaga keseimbangan demokrasi.
Bahasa politik seperti ini sebenarnya mengirim pesan besar.
Bahwa pertarungan politik pasca pemilu mulai memasuki fase baru. Tidak lagi sekadar kompetisi elektoral, tetapi negosiasi stabilitas nasional.
Prabowo tampaknya memahami satu hal penting: kritik yang terukur justru bisa menjadi alat koreksi kekuasaan.
Ia bahkan mengutip filosofi sederhana bahwa orang yang mengingatkan, meski kadang menyakitkan, sebenarnya sedang menyelamatkan kita.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi dalam tradisi politik Indonesia, itu cukup langka.
Sebab biasanya, kritik dibalas sindiran. Oposisi dibalas serangan balik. Media sosial dipenuhi perang narasi.
Kini, yang muncul justru ucapan terima kasih.
Dan mungkin, di situlah sisi lain politik mulai berubah: ketika penguasa tidak lagi hanya ingin dipuji, tetapi mulai belajar mendengar suara yang berbeda. (*)
