Jakarta, katasulsel.com — Nama Iyus Sugirman alias Mama Ghufron, pimpinan sebuah pondok pesantren di Malang, Jawa Timur, mendadak ramai diperbincangkan publik usai sejumlah potongan videonya viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, Mama Ghufron melontarkan sejumlah pengakuan tak biasa. Mulai dari disebut bisa berbicara dengan semut hingga klaim melakukan “video call” dengan malaikat. Pernyataan-pernyataan itu memicu polemik luas dan membuat banyak warganet mempertanyakan kebenarannya.
Kontroversi tersebut akhirnya mendapat perhatian serius dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
MUI menilai pernyataan yang beredar perlu dikaji lebih jauh karena dinilai berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat serta bisa memicu kesalahpahaman soal ajaran keagamaan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, Cholil Nafis, menegaskan pihaknya akan menempuh pendekatan pembinaan terlebih dahulu untuk meluruskan pemahaman yang berkembang.
MUI juga berencana menelusuri lebih dalam sejauh mana ajaran atau narasi yang disampaikan Mama Ghufron.
Pihak MUI menyebut penyelesaian akan dilakukan melalui jalur dakwah, pembinaan, hingga kemungkinan langkah hukum bila ditemukan unsur penyimpangan yang dinilai meresahkan.
Sorotan paling tajam muncul dari klaim “video call dengan malaikat maut” yang dianggap tidak memiliki dasar logis maupun pijakan keagamaan yang jelas.
Pernyataan itulah yang memperkuat kontroversi dan membuat kasus ini terus menjadi pembicaraan publik.
Mama Ghufron sendiri diketahui merupakan pengasuh Pondok Pesantren UNIQ Nusantara di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
Sementara itu, MUI melalui bidang pengkajian dan penelitian juga telah berkoordinasi dengan MUI Kabupaten Malang untuk mendalami persoalan tersebut.
Langkah itu dilakukan setelah banyak pertanyaan dan keresahan muncul dari masyarakat terkait figur Mama Ghufron dan narasi-narasi yang beredar di media sosial.
MUI Malang dikabarkan sempat berupaya melakukan komunikasi langsung, namun pertemuan dengan yang bersangkutan belum terlaksana.
Kasus ini kini menjadi perhatian karena dinilai bukan sekadar viral di media sosial, tetapi juga menyentuh ranah sensitif: kepercayaan publik, ajaran agama, dan potensi disinformasi di ruang digital.
