Oleh: Sarifuddin Siregar

Siang itu matahari Sidikalang tidak terlalu garang.

Angin tipis turun dari perbukitan Dairi. Angkot berhenti pelan di depan gerbang SMAN 2 Sidikalang, Jalan Air Bersih. Dari dalamnya turun seorang ibu berkaos merah. Wajahnya lelah. Tapi matanya menyimpan satu tujuan.

Ia datang tidak sendiri.

Dua putrinya ikut di belakang. Tubuh semampai. Wajah masih belia. Langkahnya pelan. Ada gugup. Ada harap.

Mereka datang untuk satu urusan penting: mendaftar sekolah.

Bagi banyak orang, ini mungkin perkara biasa. Anak datang ke sekolah. Mengurus administrasi. Mengisi formulir. Lalu pulang.

Tapi siang itu, di gerbang sekolah negeri di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, ada kisah kecil yang diam-diam lebih besar dari sekadar urusan sepatu.

Ibu ituβ€”sebut saja Meiβ€”baru tiba dari Desa Kuta Tengah, Kecamatan Siempat Nempu Hulu. Jarak dari kampungnya tidak dekat. Ongkos datang pun bukan perkara ringan.

Ia menghampiri petugas keamanan sekolah.

β€œPak, mau daftar… di mana ruangannya?”

Satpam, Jonsari Tumanggor, menunjukkan arah.

β€œDi sana, Bu. Tapi masuk harus rapi. Harus pakai sepatu.”

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Mei, itu seperti kabar yang membuat langkahnya tertahan.

Putrinya datang tanpa sepatu hitam.

Yang dipakai hanya alas kaki biasa.

Ia tampak bingung.

Pulang berarti biaya lagi. Datang lagi berarti waktu terbuang. Sementara proses pendaftaran belum tentu menunggu.

Ia sempat bertanya pelan: masih bukakah pendaftaran satu jam lagi?

Mungkin ia sedang menghitung jarak. Menghitung ongkos. Menghitung kemungkinan.

Kadang orang miskin memang harus menghitung lebih banyak hal daripada orang kaya.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Viral hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Viral terbaru di sini