Di tengah berita tentang kekerasan, egoisme, dan menurunnya empati yang kerap memenuhi ruang publik, kisah ini memang tampak kecil.
Hanya sepatu.
Bukan uang miliaran.
Bukan bantuan besar.
Bukan proyek.
Bukan penghargaan.
Tapi justru di situlah nilainya.
Peradaban sering kali tidak runtuh oleh kurangnya gedung megah.
Ia runtuh saat manusia kehilangan kepedulian.
Dan kadang, ia justru bertahan karena tindakan kecil yang dilakukan tanpa hitung-hitungan.
βKita harus peduli kepada sesama. Kalau bisa ditolong, ya ditolong,β kata Rehat.
Kalimat yang pendek.
Tapi sering lebih berat dipraktikkan daripada pidato panjang.
Rio sepakat.
Bagi mereka, sekolah, agama, dan kehidupan sosial bukan sekadar teori di buku.
Harus ada wujudnya.
Harus terasa manfaatnya.
Harus hidup.
Keduanya ternyata juga punya mimpi.
Mereka sedang menunggu ujian siang itu.
Selepas lulus, Rehat dan Rio ingin melanjutkan kuliah ke Pulau Jawa.
Bidikannya tidak kecil.
Institut Teknologi Bandung (ITB).
Karena itu mereka memperkuat matematika, fisika, dan Bahasa Inggris.
Mereka melihat kakak kelas lebih dulu menembus kampus-kampus negeri favorit.
Dan itu menjadi bara kecil yang menyalakan tekad.
βAbang kelas kami sudah banyak masuk PTN favorit di Jawa. Jadi termotivasi,β kata Rio.
Anak-anak kampung memang sering punya cara sunyi untuk membangun masa depan.
Belajar diam-diam.
Bermimpi pelan-pelan.
Kadang sambil meminjamkan sepatu.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
