Di sela kebingungan itu, seorang warga yang melihat kejadian tersebut memberi saran sederhana.
βCoba tanya pelajar yang duduk di sana. Mana tahu mau bantu.β
Di seberang sekolah, dekat parkiran sepeda motor, dua pelajar lelaki sedang duduk menunggu waktu ujian.
Mereka tidak sedang membuat konten.
Tidak sedang mencari pujian.
Tidak sedang menunggu kamera.
Hanya duduk.
Berteduh.
Biasa saja.
Nama mereka: Rehat Sianturi dan Rio Pranata Rajagukguk.
Keduanya siswa SMAN 2 Sidikalang.
Mei lalu menyeberang bersama dua putrinya.
Barangkali dengan rasa sungkan.
Barangkali dengan harapan tipis.
Mungkin juga dengan kalimat yang tidak enak diucapkan:
Bolehkah pinjam sepatu?
Tak sampai semenit.
Dua pasang sepatu hitam berpindah kaki.
Dari siswa SMA kepada dua siswi SMP yang hendak mendaftar sekolah.
Sesederhana itu.
Tidak ada rapat.
Tidak ada skenario.
Tidak ada hubungan keluarga.
Bahkan mereka sebelumnya tidak saling kenal.
Hanya ada satu hal yang bekerja cepat: rasa iba.
βKasihan. Kampungnya jauh,β kata Rehat dan Rio saat dimintai alasan mengapa rela meminjamkan sepatu mereka.
Mereka kemudian tetap berada di luar gedung.
Tanpa sepatu.
Menunggu giliran ujian.
Barangkali lantai terasa panas.
Barangkali tanah sedikit kasar.
Tapi dua anak itu tampaknya tidak sedang memikirkan kenyamanan kaki mereka.
Mereka sedang memikirkan agar dua anak lain tidak pulang membawa kecewa.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
