Sidikalang, Katasulsel.com β Peristiwa ini boleh dianggap bisa. Mungkin dianggap tidak menarik. Namun juga bisa spesialis di tengah menurunnya moralitas berbagai kalangan. Jika dicermati, sesungguhnya memberi kesan istimewa. Ternyata, generasi muda memilki kepekaan atau sensifitas tinggi.
Apa itu? 2 siswa SMAN 2 Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatera Utara rela melepas sepatu hitam — seragam yang dipakai buat membantu 2 perempuan yang hendak mendaftar menjadi calon siswa di sekolah milik pemerintah itu.
Pria tersebut atas nama Rehat Sianturi dan Rio Pranata Rajagukguk beralamat di Basecamp Kelurahan Sidiangkat dan Rio Pranata Rajagukguk.
Kejadiannya berlangsung tanpa skenario. Dan, mereka tidak saling kenal.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Bagaimana ceritanya? Seorang ibu rumah tangga mengenakan kaos merah, sebut saja bernama Mei (samaran-red) turun dari angkot persis di depan gerbang sekolah di Jalan Air Bersih Sidikalang, Senin (25/5/2026) siang. Ia bersama 2 putri berparas manis bertubuh jangkung.
Mereka melangkah mendekat Satpam, Jonsari Tumanggor.
βKemana mendaftar, pak?β tanya Mei.
βDi sana ruangannya, bu. Tapi, pakaian harus rapi. Mesti pakai sepatuβ, kata Tumanggor.
Mendengar respons itu, Mei tampak kebingunan. Dia menyebut, berasal dari Desa Kuta Tengah Kecamatan Siempat Nempu Hulu. Jaraknya lumayan jauh. Mei kemudian minta info, apakah pendaftaran masih buka 1 jam lagi?
Mei menyebut, mengetahui bahwa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dilakukan secara online. Tetapi ia merasa, lebih pas kalau datang langsung.
Di sela dialog tersebut, seorang warga melihat 2 pelajar duduk di kursi di seberang sekolah. Mereka berteduh di parkiran sepeda motor.
βCoba minta tolong kepada pelajar sana. Manatahu mau membantuβ, ujar warga.
Mei dan putrinya kemudian menyeberang lalu menemui. Tak sampai satu menit, 2 gadis pelajar SMP itu sudah memakai sepatu hitam milik pelajar SMA tadi.
βKasihan kita dengar kampungnya jauhβ, ujar Rehat dan Rio kala diminta wartawan alasan merelakan sepatu dipinjamkan.
Keduanya menerangkan, pendidikan sekolah, agama dan peradaban juga mengajarkan nilai-nilai sosial. Dan itu mesti diwujudkan.
βKita harus peduli kepada sesama. Kalau bisa ditolong, ya, ditolongβ, kata Rehat.
Kalau tidak diberi, kata Rehat, tamu dimasud mungkin akan pulang ke rumah. Jaraknya jauh. Ongkos lagi.
Rehat dan Rio menyebut, mereka di luar gedung sembari menunggu jam ujian. Jika tamat, keduanya ingin kuliah di Jawa. Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah kampus bidikan. Makanya, matematika, fisika dan Bahasa Ingris diperkuat.
βAbang kelas kami sudah banyak raih kursi di kampus favorit PTN di Jawa. Jadi, termotivasiβ, kata Rio.
