Ia berdiri di sana siang dan malam. Nonstop 24 Jam
Oleh: Edy Basri
Tidak pernah cuti. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah meminta kenaikan gaji.
Panas terik Bulucenrana ia hadapi. Hujan deras yang mengguyur Pangkajene juga ia terima dengan tabah. Bahkan ketika angin malam membawa debu dari arah jalan poros Soppeng, ia tetap tegak menjalankan tugasnya.
Namun nasibnya memang tragis.
Ia dicuekin.
Ia adalah traffic light.
Warga lokal menyebutnya lampu lalu lintas, terletak di perempatan gerbang masuk Kota Pangkajene, Kabupaten Sidenreng Rappang, dari arah Kabupaten Soppeng.
Setiap hari ia berkedip-kedip memberi aba-aba. Merah. Kuning. Hijau.
Bahasanya sederhana. Bahkan anak kecil pun mengerti.
Merah berarti berhenti.
Kuning berarti hati-hati.
Hijau berarti jalan.
Tidak ada kalimat yang lebih pendek dari itu.
Tetapi justru kesederhanaan itulah yang sering kalah oleh ketergesaan manusia.
Saya beberapa kali sengaja memperhatikan lampu itu. Tidak sampai satu jam. Cukup beberapa menit berdiri di pinggir jalan.
Hasilnya membuat geleng-geleng kepala.
Saat lampu merah menyala, masih ada saja pengendara motor yang melaju santai. Seolah lampu itu sedang bercanda. Seolah warna merah hanya hiasan dekoratif yang dipasang pemerintah untuk mempercantik sudut kota.
Ada yang menerobos perlahan.
Ada yang menerobos cepat.
Ada pula yang melihat kanan-kiri terlebih dahulu, lalu melintas dengan wajah tenang.
Seakan-akan ia sedang mengambil keputusan besar yang hanya diketahui dirinya sendiri.
Padahal lampu itu tidak pernah salah memberi instruksi.
Yang salah adalah manusia yang memilih tidak mendengarkan.
Lucunya, ketika terjadi kemacetan atau nyaris tabrakan di persimpangan, orang sering menyalahkan keadaan.
Jarang yang mau mengakui bahwa masalah sesungguhnya bermula dari ketidakdisiplinan.
Lampu lalu lintas diciptakan bukan untuk menyulitkan perjalanan.
Sebaliknya.
Ia hadir agar semua orang bisa sampai tujuan dengan selamat.
Fungsinya sangat sederhana tetapi luar biasa penting.
Ia mencegah kecelakaan dengan memberikan giliran yang jelas kepada setiap arah kendaraan. Tanpa aturan itu, setiap pengendara akan merasa dirinya paling berhak melintas terlebih dahulu.
Bayangkan empat arus kendaraan bertemu dalam satu titik tanpa aturan.
Yang lahir bukan kelancaran.
Melainkan kekacauan.
Lampu lalu lintas juga berfungsi mengurai kemacetan. Di persimpangan yang ramai, kendaraan harus bergerak secara bergantian agar tidak saling mengunci.
Dan yang sering terlupakan, lampu lalu lintas melindungi pejalan kaki.
Mungkin jumlah pejalan kaki di Sidrap tidak sebanyak kota besar. Namun hak mereka tetap sama. Mereka berhak menyeberang jalan dengan aman tanpa harus mempertaruhkan nyawa di depan kendaraan yang melaju.
Karena itu hampir seluruh dunia sepakat menggunakan bahasa yang sama.
Merah untuk berhenti.
Kuning untuk bersiap dan berhati-hati.
Hijau untuk berjalan.
Tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Arab atau Bugis.
Semua orang paham.
Masalahnya bukan pada pemahaman.
Masalahnya ada pada kemauan untuk patuh.
Kadang saya membayangkan jika lampu lalu lintas itu bisa berbicara.
Mungkin ia sudah lama protes.
“Kenapa saya dipasang kalau tidak didengar?”
Mungkin begitu keluhnya.
Atau mungkin ia akan tertawa getir melihat manusia yang merasa sangat modern tetapi masih kesulitan menaati aturan paling dasar di jalan raya.
Padahal teknologi sudah semakin maju.
Motor semakin canggih.
Mobil semakin mewah.
Jalan semakin lebar.
Namun kedisiplinan tidak selalu tumbuh seiring kemajuan.
Justru itulah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama.
Sidrap hari ini berkembang pesat. Jalan-jalan semakin ramai. Kendaraan bertambah setiap tahun. Aktivitas ekonomi bergerak semakin cepat.
Semua itu kabar baik.
Tetapi kemajuan fisik harus diikuti kemajuan perilaku.
Sebab kota yang maju bukan hanya diukur dari banyaknya bangunan atau panjangnya jalan.
Kota yang maju juga terlihat dari bagaimana warganya menghormati aturan yang dibuat demi keselamatan bersama.
Lampu lalu lintas di perempatan masuk Kota Pangkajene itu masih berdiri di sana.
Masih setia bekerja.
Masih sabar memberi isyarat.
Masih menjalankan tugas tanpa mengenal lelah.
Sayangnya, hingga hari ini, ia masih sering dicuekin orang Sidrap.
Dan mungkin, yang perlu diperbaiki bukan lampunya.
Melainkan kita yang belum sepenuhnya mau berhenti saat merah menyala. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
