JAKARTA β€” Harga emas dunia dan domestik kompak bergerak melemah pada pagi 27 Mei 2026, setelah sebelumnya mencatat lonjakan tajam yang sempat membuat pasar logam mulia β€œpanas”.

Tekanan ambil untung (profit taking) langsung terasa. Di pasar global, emas tercatat turun dari sekitar 4.570 dolar AS menjadi 4.508 dolar AS per ounce, sementara di pasar domestik beberapa merek besar juga mengalami koreksi serempak.

Di sejumlah sistem perdagangan, harga emas bahkan tercatat turun sekitar 500.000 VND per ounce dalam satu hari perdagangan.

Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali bertanya-tanya: ini sekadar koreksi sehat, atau awal pembalikan tren?

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Emas Domestik Kompak Melemah

Di pasar Vietnam, harga emas batangan SJC ikut terkoreksi. Di Kota Ho Chi Minh dan wilayah utara, harga beli dan jual sama-sama turun sekitar 0,5 juta VND per ounce dibanding hari sebelumnya.

Harga SJC kini berada di kisaran 158,5 juta – 161,5 juta VND per ounce, menyesuaikan pelemahan pasar global.

Merek lain seperti DOJI, PNJ, hingga Phu Quy juga mencatat pola serupa: harga jual dan beli bergerak turun, meski masih bertahan di level tinggi historis.

Artinya, meskipun turun, emas belum benar-benar kehilangan β€œnapas mahal”-nya.

Dunia Emas Lagi Tahan Napas

Di pasar internasional, harga emas spot masih berada di kisaran 4.508 dolar AS per ounce, setelah sempat menyentuh level lebih tinggi sehari sebelumnya.

Rentang perdagangan yang tercatat berada di 4.483 hingga 4.580 dolar AS per ounce, menunjukkan volatilitas yang masih tinggi.

Para analis menilai, penurunan ini bukan karena fundamental emas melemah, melainkan karena pasar sedang β€œistirahat” setelah reli panjang.

Kenapa Emas Turun?

Ada beberapa faktor utama yang menekan harga emas secara global:

1. Investor ambil untung
Setelah harga naik cukup tinggi, banyak pelaku pasar memilih mengunci keuntungan, sehingga tekanan jual meningkat.

2. Pasar menunggu arah The Fed
Sinyal suku bunga Amerika Serikat masih jadi penentu utama arah emas. Ketidakpastian membuat pasar lebih hati-hati.

3. Dolar AS kembali menguat tipis
Penguatan dolar membuat emas menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga permintaan melemah.

4. Kekhawatiran ekonomi global masih ada
Meski turun, emas belum jatuh dalam karena ketidakpastian global masih menopang permintaan aset aman.

Koreksi atau Awal Babak Baru?

Pasar kini terbelah dalam tiga skenario:

  • Konsolidasi: emas bergerak stabil di level tinggi tanpa arah tajam
  • Rebound: jika harga dunia kembali naik di atas 4.550 USD, emas berpotensi menguat lagi
  • Koreksi lanjutan: jika tekanan jual berlanjut, harga bisa turun lebih dalam

Namun sebagian analis menilai, posisi emas saat ini masih berada di zona β€œtinggi sejarah”, sehingga koreksi dianggap wajar setelah lonjakan besar.

Investor Diminta Lebih Tenang

Di tengah fluktuasi ini, investor diimbau tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Untuk jangka pendek, pasar masih sangat volatil. Untuk jangka menengah, perhatian tertuju pada kebijakan The Fed dan pergerakan dolar. Sementara untuk jangka panjang, emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai yang menarik saat harga terkoreksi bertahap.

Satu hal yang pasti, pasar emas saat ini sedang tidak tenangβ€”bukan jatuh bebas, tapi sedang mencari arah baru setelah mencapai puncak. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.