Jakarta, katasulsel.com — Di Lapangan Upacara Kompleks SKPD Sidrap, Sabtu (23/5/2026), suasana mendadak berubah jadi hening yang tegang.
Bukan hening biasa—ini hening yang muncul karena ribuan mata sedang mengikuti satu hal yang sama: langkah kaki yang tidak boleh salah sedetik pun.
Satu, dua, tiga… semua bergerak seperti satu tubuh.
Dan di detik itulah, nama SMAN 2 Sidenreng Rappang perlahan “mengunci” jalannya kompetisi.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Nilai Tertinggi, Tapi yang Lebih Menarik: Cara Mereka Menang
Dalam Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) MPR RI 2026 tingkat Sulsel, SMAN 2 Sidrap keluar sebagai juara pertama dengan nilai 7.890 poin.
Tapi yang bikin mereka beda bukan cuma angka itu.
Melainkan cara mereka membuat barisan terlihat seperti “satu pikiran”.
Gerakan yang presisi, formasi yang rapi, dan momen pengibaran bendera yang membuat suasana lapangan seakan berhenti beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Di belakang mereka, SMAN 1 Tana Toraja (7.095 poin) dan SMAN 1 Jeneponto (6.970 poin) harus mengakui ketangguhan tuan rumah.
Dari 10 Sekolah, Hanya Satu yang Pulang dengan “Tiket Jakarta”
Kompetisi ini diikuti 10 sekolah dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Masing-masing mengirim 12 peserta dan 1 komandan regu, dengan waktu tampil hanya 10 menit.
Sepuluh menit yang menentukan segalanya: bisa jadi kebanggaan, atau pulang tanpa cerita.
Namun SMAN 2 Sidrap seperti bermain di “zona fokus penuh”. Tidak ada gerakan yang terlihat ragu. Tidak ada komando yang terlambat ditangkap.
Dan itu yang membuat mereka akhirnya ditetapkan sebagai wakil Sulsel ke Final Nasional LKBB-PB MPR RI di Gedung MPR RI Jakarta, Agustus 2026.
“Kami Tidak Mau Cuma Rapi, Kami Mau Sempurna”
Komandan Regu SMAN 2 Sidrap, Muh Yusuf S., menyebut kemenangan ini bukan sekadar soal latihan, tapi soal mental.
“Saya bangga, tapi ini baru awal. Kami akan berusaha lebih baik di nasional,” ujarnya singkat.
Sementara itu, pembina Fitriani justru melihat sisi yang lebih dalam dari kemenangan ini.
Menurutnya, anak-anak ini sedang belajar hal yang tidak diajarkan di papan tulis: disiplin tanpa suara, kerja sama tanpa ego, dan fokus tanpa gangguan.
“Jangan sombong, tetap latihan. Karena di tingkat nasional nanti, semuanya mulai dari nol lagi,” katanya.
Juri TNI–Polri, Penilaian Tanpa Ruang Toleransi
Penilaian lomba ini dilakukan oleh unsur TNI, Polri, dan Purna Paskibraka Indonesia (PPI).
Artinya, tidak ada istilah “hampir benar”.
Semua harus tepat. Semua harus sinkron.
……………..
