Sidrap, Katasulsel.com — Di Sidrap, ada pemandangan yang nyaris jadi rutinitas harian, tapi tidak pernah terasa biasa.
Setiap pagi dan sore di titik-titik sekolah, sosok berseragam cokelat muda itu hadir lebih awal dari bel sekolah berbunyi. Mereka bukan sekadar berdiri. Mereka membaca arus, menghentikan laju kendaraan, lalu mengubah jalan raya yang sibuk menjadi ruang aman bagi langkah-langkah kecil anak sekolah.
Mereka adalah Polisi Wanita (Polwan) Polres Sidrap.
Di tengah deru motor dan klakson yang kadang tak sabar, para Polwan ini justru menjadi “penyeimbang” yang paling tenang di jalanan. Tangannya memberi isyarat tegas, tapi wajahnya tetap ramah. Ada disiplin, tapi juga ada kehangatan yang tidak dibuat-buat.
Salah satunya adalah Bripka Eli Ermawati, yang hampir setiap hari berdiri di titik rawan padat kendaraan menuju sekolah.
Bagi Eli, ini bukan sekadar tugas tambahan. Ini sudah menjadi bagian dari ritme hidupnya sebagai anggota lalu lintas.
“Kegiatan ini sudah rutinitas kami. Mengatur arus di titik penyeberangan pelajar, sekaligus memastikan anak-anak sampai ke gerbang sekolah dengan selamat,” ujarnya.
Kalimatnya sederhana. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada pekerjaan yang tidak selalu terlihat di laporan resmi: memastikan satu per satu anak tidak melangkah ke jalan terlalu cepat, memastikan kendaraan tidak melaju terlalu dekat, dan memastikan pagi hari tidak berubah menjadi kabar buruk.
Di sisi lain, kehadiran Polwan seperti Eli juga menjadi bagian dari program pelayanan Polres Sidrap yang menekankan pendekatan humanis di lapangan.
Kapolres Sidrap Fantry menilai langkah ini bukan sekadar pengaturan lalu lintas, tetapi bentuk nyata kehadiran negara di titik-titik kecil kehidupan warga.
“Kehadiran polisi di titik rawan seperti ini efektif menekan risiko kecelakaan dan memberikan rasa aman bagi pelajar,” ujarnya.
Di mata warga, kehadiran itu terasa langsung.
Agus, salah satu orang tua siswa, mengaku lebih tenang melepas anaknya ke sekolah setiap pagi.
“Kami sebagai orang tua tentu merasa lebih aman. Anak-anak jadi lebih mudah menyeberang, apalagi jalan cukup ramai saat jam masuk,” katanya.
Namun yang menarik, ada sesuatu yang tidak tertulis di laporan mana pun: interaksi kecil yang terjadi setiap hari di zebra cross itu.
Ada anak yang disapa, ada yang dibantu menggandeng tas, ada yang sesekali tersenyum malu saat diarahkan untuk menunggu kendaraan berhenti total. Hal-hal kecil yang mungkin tidak tercatat dalam statistik, tapi terasa kuat dalam ingatan.
Di Sidrap, Polwan bukan hanya pengatur lalu lintas. Mereka adalah penjaga ritme pagi. Orang-orang yang membuat jalanan yang sibuk tetap punya ruang untuk hal paling sederhana: anak-anak menyeberang dengan aman, tanpa rasa takut. (*)
