Sidikalang, Katasulsel.com — Di tengah banyaknya program bantuan pendidikan yang menyasar berbagai lapisan, Bupati Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Vickner Sinaga, memilih fokus yang lebih spesifik: membantu calon mahasiswa dari keluarga ekonomi lemah yang sudah berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri (PTN), namun terancam tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya.
“Saya lebih tertarik membantu anak-anak yang sudah dinyatakan lolos masuk PTN tetapi kondisi ekonomi tidak mampu,” ujar Vickner di Sidikalang, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, momen paling krusial bukan hanya saat kelulusan, tetapi ketika seseorang sudah diterima di kampus impian namun tidak memiliki kemampuan finansial untuk bertahan. Di titik itu, banyak harapan yang bisa saja berhenti di tengah jalan.
“Jangan sampai kesempatan yang sudah diraih itu lepas. Jangan sampai tidak lanjut kuliah. Kasihan,” tambahnya.
Vickner menegaskan, berbeda dengan keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, seperti PNS atau pengusaha, yang menurutnya masih relatif mampu membiayai pendidikan anak tanpa banyak bantuan tambahan.
Dalam upaya memperluas jangkauan bantuan, ia juga menggerakkan Yayasan Dairi Saroha (Yadas), sebuah organisasi sosial yang beranggotakan intelektual asal Dairi di Jakarta. Melalui jaringan ini, berbagai bantuan dikumpulkan untuk disalurkan kepada pelajar dan mahasiswa.
“Ratusan mahasiswa telah dibantu lewat Yadas, baik komputer maupun biaya hidup atau beasiswa,” ungkapnya.
Tak hanya mengandalkan yayasan, Vickner juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya anggota Komisi X DPR RI, Sabam Sinaga, yang disebutnya telah menyatakan komitmen membantu 33 mahasiswa pada tahun 2026.
“Padahal Dairi bukan daerah pemilihannya. Ini pendekatan personal, satu marga dan komunikasi yang baik,” kata Vickner.
Di sisi lain, ia juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan pelajar Dairi yang mampu bersaing dan menembus perguruan tinggi negeri. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan daya saing yang kuat dari siswa-siswa daerah.
“Hebat-hebat anak kita. SMAN 1 itu hebat, bukan karena saya alumni,” ujarnya.
Meski demikian, ia tidak menutup mata bahwa masih banyak yang gagal menembus PTN. Karena itu, pemerintah daerah juga mulai mendorong kehadiran bimbingan belajar nasional agar masuk ke sekolah-sekolah di daerah.
“Saya sudah bicara dengan owner salah satu bimbel nasional, mereka mau masuk ke SMA di daerah kita,” pungkasnya. (*)
