Sidrap, katasulsel.com — Ada rumah-rumah yang tidak pernah ramai tamu. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena hari-hari sudah terlalu sibuk untuk sekadar menunggu kabar baik.
Di salah satu sudut Kelurahan Majjelling, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang, Jumat (5/6/2026) siang itu, pintu-pintu rumah seperti mendapat “ketukan berbeda”. Bukan surat panggilan, bukan kabar duka. Tapi tangan-tangan berseragam yang membawa beras dan telur.
Dari program Jumat Berkah, Satuan Reskrim Polres Sidrap menyusuri lorong-lorong kecil yang sering luput dari peta perhatian. Mereka datang dengan kantong bantuan dan sapaan yang pelan.
Kapolres Sidrap AKBP Fantry Taherong menyebut langkah itu sebagai cara sederhana untuk memastikan Polri tetap hadir di ruang-ruang yang paling dekat dengan denyut hidup warga.
“Program Jumat Berkah kami jalankan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian dan kedekatan dengan masyarakat,” ujarnya.
Tapi di lapangan, makna program itu sering kali tidak berhenti di kalimat resmi. Ia menjelma menjadi hal-hal kecil yang sulit diukur: senyum yang tiba-tiba muncul, tangan yang sedikit gemetar menerima bantuan, atau jeda panjang sebelum seseorang berkata “terima kasih”.
Di rumah Asniar (55), janda dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan, bantuan itu datang seperti jeda dari beban yang tak pernah benar-benar selesai. Ia tidak banyak berkata-kata. Hanya mata yang sedikit berkaca-kaca, seolah sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa haru.
“Alhamdulillah… terima kasih bapak Polisi. Semoga jadi berkah,” ucapnya lirih.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada keramaian. Hanya sunyi yang terasa lebih hangat dari biasanya.
Di sela pembagian bantuan, percakapan kecil juga terjadi. Tentang harga beras yang naik-turun, tentang anak sekolah, tentang malam yang kadang terasa panjang bagi mereka yang hidup pas-pasan. Polisi mendengar lebih banyak daripada berbicara. Seolah hari itu memang bukan untuk menjelaskan, tetapi untuk memahami.
Di Majjelling, Jumat itu tidak berubah menjadi hari besar. Tidak ada panggung. Tidak ada seremoni.
Tapi bagi beberapa rumah yang pintunya diketuk, hari itu meninggalkan sesuatu yang sederhana—rasa bahwa mereka tidak sepenuhnya dilupakan. (*)
