Dairi, katasulsel.com — Kabar yang kurang menggembirakan datang dari sentra kopi di Kabupaten Dairi. Setelah sempat bertahan di level yang cukup baik, harga kopi Arabika Sidikalang kini mulai bergerak turun seiring kondisi cuaca yang semakin kering dalam beberapa pekan terakhir.

Di sejumlah lapak penampungan kopi di Kota Sidikalang, Sabtu (6/6/2026), harga kopi tercatat berada di kisaran Rp49.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Angka itu lebih rendah dibanding pekan sebelumnya yang masih menyentuh Rp51.000 per kilogram.

Penurunan memang hanya sekitar Rp1.000 per kilogram. Namun bagi petani yang menjual hasil panen dalam jumlah besar, selisih tersebut cukup terasa terhadap pendapatan mereka.

“Pasaran sedang turun. Sekarang rata-rata Rp49 ribu sampai Rp50 ribu per kilogram,” ujar salah seorang pengusaha penampung kopi, Naek Nadapdap.

Menurutnya, melemahnya harga tidak terlepas dari kualitas buah kopi yang ikut terdampak musim kemarau. Curah hujan yang minim membuat pertumbuhan buah tidak optimal. Di sisi lain, cuaca panas memicu meningkatnya serangan hama lalat buah yang dalam istilah lokal dikenal sebagai “jaruk”.

Hama tersebut menyerang buah kopi dengan cara menusuk kulit buah sehingga kualitas hasil panen menurun.

“Kalau musim kemarau seperti sekarang, banyak buah kopi yang terkena cucuk jaruk,” jelas Naek.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani kopi di Dairi yang selama ini menggantungkan penghasilan dari komoditas unggulan tersebut.

Meski harga sedang melemah, aktivitas perdagangan kopi masih berjalan normal. Dari lapak penampungan, kopi petani biasanya dikirim ke sejumlah daerah pengumpul di Sumatera Utara, salah satunya Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, sebelum akhirnya masuk ke jalur ekspor.

Pada musim panen raya, volume kopi yang masuk ke tempat penampungan bahkan bisa mencapai puluhan ton dalam sehari.

Pandangan serupa disampaikan pedagang kopi lainnya, Noel Saragih. Ia menyebut harga kopi saat ini berada pada rentang Rp49.000 hingga Rp50.000 per kilogram, turun dibanding pekan lalu.

“Harga turun sekitar seribu rupiah per kilo,” katanya.

Sebagai daerah penghasil kopi terkemuka di Sumatera Utara, Dairi memiliki reputasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Nama Kopi Sidikalang bahkan sudah lama dikenal di pasar nasional maupun internasional karena karakter cita rasanya yang khas.

Karena itu, setiap perubahan harga maupun kondisi cuaca selalu menjadi perhatian para petani. Mereka berharap musim kemarau tidak berlangsung terlalu lama agar kualitas buah kopi tetap terjaga dan harga kembali membaik saat panen berikutnya.

Bagi ribuan keluarga petani di Dairi, kopi bukan sekadar komoditas perdagangan. Dari kebun-kebun di lereng perbukitan itulah roda ekonomi rumah tangga berputar, anak-anak bersekolah, dan harapan masa depan terus dirawat.(*)