Sidrap, katasulsel.com — Dalam sepak bola, unggul lebih dulu tidak selalu berarti menang.

Pelajaran itu kembali terlihat di Stadion Ganggawa, Minggu (7/6/2026), saat Bhayangkara Sidrap FC harus mengakui keunggulan Amanah RD99 FC dengan skor 1-2 dalam pertandingan yang berlangsung penuh tensi hingga menit-menit akhir.

Selama hampir satu babak penuh, Bhayangkara terlihat berada di jalur kemenangan.

Mereka disiplin.

Mereka terorganisir.

Dan mereka berhasil mencetak gol lebih dulu.

Namun di sepak bola, ada satu pemain yang terkadang cukup untuk mengubah seluruh jalan cerita.

Namanya: Kahar Kalu.

Babak pertama berjalan seperti duel catur.

Tidak banyak peluang bersih tercipta. Kedua tim lebih sibuk menguasai lini tengah dibanding mengambil risiko melakukan tekanan tinggi.

Bhayangkara Sidrap FC mengandalkan permainan kolektif melalui trio gelandang Andi Mukram, Yusran, dan Sahrin. Sementara Amanah RD99 FC mencoba membangun serangan dari kaki Aswar Anas dan Farhan sebelum mengalirkannya ke sektor sayap.

Hasilnya?

Skor tetap 0-0.

Tidak ada yang benar-benar dominan.

Tidak ada yang benar-benar tertekan.

Namun semuanya berubah setelah turun minum.

Memasuki babak kedua, Bhayangkara berhasil menemukan celah.

Sahrin, gelandang bernomor punggung 19, muncul dari lini kedua dan memecah kebuntuan. Gol tersebut membuat pendukung Bhayangkara bersorak karena tim kesayangannya akhirnya berhasil membuka keunggulan.

Skor berubah menjadi 1-0.

Momentum ada di tangan Bhayangkara.

Kepercayaan diri meningkat.

Para pemain belakang mulai bermain lebih tenang.

Namun justru di titik itulah Amanah FC menunjukkan karakter mereka.

Alih-alih panik, mereka menaikkan garis permainan.

Tempo serangan dipercepat.

Aliran bola mulai diarahkan ke satu nama yang sejak awal terus mengintai ruang kosong di depan.

Kahar Kalu.

Striker bernomor punggung 25 itu tidak banyak bicara sepanjang pertandingan.

Tetapi setiap kali bola mendekati kotak penalti, ia selalu berada di tempat yang tepat.

Gol pertama datang seperti alarm.

Sebuah penyelesaian yang mengubah skor menjadi 1-1 dan memaksa pertandingan kembali hidup.

Bhayangkara mencoba bangkit.

Mereka kembali menyerang.

Namun ketika laga mulai mendekati akhir dan banyak yang mengira pertandingan akan berakhir seri, Kahar kembali muncul.

Kali ini lebih menyakitkan bagi lawan.

Striker Amanah FC itu mencetak gol keduanya sekaligus membalikkan keadaan.

Gol tersebut seolah menjadi pukulan terakhir yang sulit dibalas Bhayangkara.

Peluit panjang pun berbunyi.

Papan skor menunjukkan angka yang tak berubah lagi.

Bhayangkara Sidrap FC 1-2 Amanah RD99 FC.

Jika pertandingan ini ditulis dalam satu kalimat sederhana, mungkin bunyinya seperti ini:

“Bhayangkara sempat memegang kemenangan, tetapi Kahar Kalu datang dan mengambilnya.”

Di hadapan sekitar 553 penonton yang memadati Ganggawa, Amanah RD99 FC membuktikan bahwa pertandingan belum selesai sampai peluit akhir berbunyi.

Dan Kahar Kalu membuktikan bahwa seorang striker tidak harus sering menyentuh bola untuk menjadi penentu.

Cukup dua kali.

Dua sentuhan.

Dua gol.

Dan tiga poin pun berpindah tangan. (*)