Wajo, katasulsel.com — Kabupaten Wajo menunjukkan kinerja biaya konstruksi yang relatif efisien di Sulawesi Selatan. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Provinsi dan Kabupaten/Kota 2025, IKK Wajo tercatat sebesar 95,59 poin.

Angka tersebut mengalami kenaikan tipis 0,54 poin dibandingkan 2024, namun secara tren jangka menengah justru menurun 2,57 poin dalam lima tahun terakhir. Data ini mengindikasikan adanya perbaikan struktur biaya konstruksi di Wajo dalam perspektif time series analysis.

Secara konseptual, IKK merupakan indikator ekonomi regional yang mengukur tingkat kemahalan biaya pembangunan fisik suatu daerah dibandingkan kota acuan nasional, yakni Kota Surabaya. Semakin tinggi nilai indeks, semakin mahal biaya konstruksi yang harus ditanggung pemerintah maupun pelaku usaha.

Dengan nilai 95,59, biaya konstruksi di Wajo setara 0,956 kali biaya konstruksi di Surabaya, menempatkan Wajo dalam kategori daerah dengan struktur biaya pembangunan relatif kompetitif.

Di tingkat regional Sulawesi Selatan, Wajo berada di peringkat ke-12 dari 24 kabupaten/kota. Posisi ini mencerminkan keseimbangan antara keterjangkauan biaya konstruksi dan dinamika pasar bahan bangunan lokal.

Sebagai perbandingan, IKK terendah di Sulawesi Selatan tercatat di Kabupaten Gowa (90,09 poin), sementara yang tertinggi berada di Kabupaten Luwu Timur (103,08 poin). Rentang indeks tersebut menunjukkan adanya disparitas spasial biaya konstruksi yang dipengaruhi faktor geografis, aksesibilitas logistik, serta struktur pasokan material.

Dalam konteks pembangunan daerah, capaian IKK Wajo menjadi indikator penting bagi efisiensi fiskal dan efektivitas belanja modal. Biaya konstruksi yang relatif terkendali memberi ruang fiskal lebih besar bagi pemerintah daerah untuk memperluas cakupan pembangunan infrastruktur dasar.

Di bawah kepemimpinan Bupati Wajo, Andi Rosman, arah pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada kuantitas proyek, tetapi juga pada cost effectiveness dan value for money. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip good governance dalam pengelolaan pembangunan publik.

Stabilitas IKK juga memberi sinyal positif bagi sektor swasta. Biaya konstruksi yang kompetitif berpotensi meningkatkan investment attractiveness, khususnya di sektor properti, infrastruktur pendukung ekonomi, dan fasilitas publik.

Secara akademik, IKK dipengaruhi oleh beberapa variabel utama, antara lain:

harga material konstruksi,

biaya transportasi dan logistik,

ketersediaan tenaga kerja konstruksi,

serta kondisi geografis dan aksesibilitas wilayah.

Turunnya tren IKK Wajo dalam lima tahun terakhir dapat dibaca sebagai hasil dari membaiknya supply chain material, meningkatnya konektivitas wilayah, serta stabilitas harga input konstruksi di tingkat lokal.

Dengan IKK yang relatif moderat, Kabupaten Wajo memiliki peluang besar untuk mempercepat pembangunan infrastruktur secara berkelanjutan tanpa tekanan biaya berlebihan. Dalam kerangka pembangunan ekonomi regional, kondisi ini memperkuat posisi Wajo sebagai daerah yang adaptif terhadap kebijakan fiskal nasional dan dinamika ekonomi makro.

Ke depan, tantangan utama pemerintah daerah adalah menjaga stabilitas IKK sambil memastikan kualitas pembangunan tetap memenuhi standar teknis dan keberlanjutan lingkungan (sustainable infrastructure development).

Dengan fondasi biaya konstruksi yang efisien dan arah kebijakan yang terukur, Wajo di bawah kepemimpinan Andi Rosman dinilai memiliki modal struktural yang kuat untuk menopang pembangunan jangka menengah dan panjang.(*)