MAKASSAR – Sepak bola itu soal momentum. Sekali tergelincir, bisa bangkit. Tapi kalau terpeleset berkali-kali? Musim bisa berubah arah.

Itulah situasi yang kini membayangi PSM Makassar di pentas Super League Indonesia 2025/2026.

Juku Eja seperti sedang berjalan di tali tipis. Dari 10 laga terakhir, hanya satu kemenangan yang berhasil diraih. Hasil yang membuat posisi mereka tertahan di papan bawah, peringkat 13 dengan 23 poin. Belum darurat. Tapi sudah masuk zona waspada.

Senin (2/3/2026) malam, PSM menjamu Persita Tangerang di Stadion Gelora BJ Habibie. Laga kandang yang mestinya jadi ladang poin. Tapi justru di rumah sendiri, PSM belakangan ini sering kehilangan “taring”.

Secara statistik, PSM memang lebih unggul dalam pertemuan dengan Persita. Namun angka-angka itu tidak mencetak gol. Apalagi pada putaran pertama musim ini, PSM sempat dipaksa menyerah 1-2 di kandang Persita. Ada utang yang belum lunas.

Persita datang dengan posisi lebih nyaman. Peringkat tujuh, 35 poin. Tanpa beban besar. Tim yang tak banyak tekanan biasanya bermain lebih lepas. Dan tim yang bermain lepas sering kali lebih berbahaya.

Jika PSM kembali terpeleset, tekanannya bisa berlipat. Suporter mulai bersuara. Media sosial sudah ramai analisis—dari taktik, rotasi, sampai isu ruang ganti. Di sepak bola modern, krisis bukan cuma soal hasil. Tapi juga soal atmosfer.

Belum selesai di situ. Lima hari berselang, Sabtu (7/3/2026), PSM harus terbang jauh ke Ternate menghadapi Malut United di Stadion Gelora Kie Raha. Perjalanan panjang, waktu pemulihan mepet, atmosfer stadion yang panas. Kombinasi yang bisa menguras fisik dan mental.

Dua laga ini seperti dua sisi mata uang. Jika mampu mengamankan enam poin, musim bisa kembali stabil. PSM menjauh dari tekanan, papan tengah kembali dalam jangkauan. Kepercayaan diri pulih. Narasi krisis mereda.

Namun jika kembali tersandung, musim bisa berubah total. Dari sekadar inkonsistensi menjadi ancaman serius. Dari sekadar tekanan biasa menjadi situasi genting.

PSM bukan tim kecil. Sejarah dan basis suporternya besar. Tapi sepak bola tidak hidup dari masa lalu. Ia bergerak dari hasil terakhir.

Maret ini bukan cuma soal jadwal. Ini soal arah musim.
Sekali lagi terpeleset, dan cerita PSM Makassar bisa berubah drastis. (edy)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.