KENDARI — Setahun kepemimpinan sering disebut sebagai fase honeymoon period. Tapi bagi duet Siska Karina Imran dan Sudirman, tahun pertama bukan bulan madu politik. Ini tahun konsolidasi. Tahun membangun pondasi. Tahun membuktikan bahwa janji kampanye bisa diturunkan menjadi program konkret.

Selasa, 3 Maret 2026, halaman Balai Kota Kendari akan menjadi panggung refleksi. Buka puasa bersama tokoh masyarakat, OPD, tokoh agama, pemuda, dan ormas. Tapi jangan salah. Ini bukan sekadar agenda seremonial dengan backdrop megah dan sambutan normatif.

Ini panggung public accountability.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kendari, Sahuriyanto Meronda, menegaskan ekspose satu tahun ini adalah bentuk keterbukaan informasi publik. Pemerintah ingin masyarakat tahu apa yang sudah dikerjakan, apa yang sedang berjalan, dan apa yang akan dikebut.

Bahasa kerennya: transparansi berbasis data.

Di era di mana publik makin melek, kepala daerah tak cukup hanya tampil ramah. Harus ada output, harus ada impact. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, penanganan kemiskinan—semua itu bukan lagi angka mati. Itu adalah indikator legitimasi.

Dan di situlah pasangan ini bermain.

Program makan bergizi gratis, koperasi kelurahan, cek kesehatan gratis, penanganan stunting, penguatan infrastruktur, hingga sektor pendidikan dan kesehatan akan dipaparkan. Ini bukan sekadar daftar program. Ini adalah roadmap menuju visi 2025–2030: “Kendari sebagai Kota Nyaman, Bersih, Pelayanan Jasa yang Berdaya Saing Kuat untuk Keberdayaan Masyarakat dengan Berpijak pada Nilai Keistimewaan.”

Visi yang terdengar panjang. Tapi substansinya jelas: Kendari harus naik kelas.

Satu hal yang menarik, refleksi ini dibalut suasana Ramadan. Buka puasa bersama memberi pesan simbolik: kepemimpinan yang membumi. Politik yang tidak berjarak. Ada emotional bonding yang dibangun.

Di dunia pemerintahan, ini disebut social capital building. Modal sosial. Karena pembangunan tak bisa hanya mengandalkan APBD. Butuh trust. Butuh partisipasi.

Setahun ini, konsolidasi birokrasi menjadi pekerjaan senyap yang tak selalu terlihat publik. Sinkronisasi OPD, penyelarasan program, hingga memastikan visi kepala daerah turun menjadi action plan di lapangan. Ini kerja teknokratis. Tapi justru di situlah letak fondasinya.

Banyak kepala daerah terjebak pada euforia program populis. Tapi Siska–Sudirman tampak memilih jalur bertahap: bangun sistem dulu, baru akselerasi. Istilahnya, jangan cuma potong pita, tapi pastikan mesin pemerintahan bekerja.

Refleksi satu tahun ini bukan garis finis. Ini milestone. Penanda bahwa fondasi sudah dicor. Tinggal bagaimana gas berikutnya ditekan.

Publik Kendari tentu tak hanya ingin laporan manis. Mereka ingin keberlanjutan. Mereka ingin percepatan. Dan pemerintah kota menyadari itu.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal siapa paling sering tampil. Tapi siapa yang paling terasa dampaknya.

Dan jika fondasi setahun ini benar-benar kuat, maka “Kendari Semakin Maju” bukan sekadar slogan di baliho. Ia bisa menjadi realitas yang dirasakan di lorong-lorong kota. (edybasri)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.