PAREPARE — Ini bukan babak pertama yang biasa. Ini 45 menit rasa final.

Di pekan ke-23 Liga 1, duel panas tersaji di Stadion Gelora BJ Habibie. PSM Makassar dan Persita Tangerang saling tikam. Skor 2-2 menutup paruh pertama. Tapi ceritanya jauh lebih liar dari sekadar angka.

PSM memulai laga dengan mental tuan rumah. High pressing. Intensitas tinggi. Tidak ada basa-basi. Istilahnya: langsung injak pedal gas.

Baru beberapa menit berjalan, set piece jadi pembuka drama. Tarikan di kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih. Protes sempat mengalir dari kubu Persita. Tapi keputusan final.

Kapten Yuran Fernandes maju. Tenang. Eksekusi dingin. 1-0. Stadion meledak.

PSM terlihat on fire. Build-up rapi. Crossing tajam. Tekanan berlapis. Bahkan mereka sempat menggandakan keunggulan. Di titik itu, publik Parepare merasa laga dalam genggaman.

Tapi sepak bola adalah game of momentum.

Saat PSM terlalu nyaman menyerang, ruang di belakang mulai terbuka. Defensive transition mereka sedikit terlambat. Dan Persita membaca itu dengan cerdas.

Penalti balasan datang. Lalu, dalam tempo cepat, gol penyama tercipta. Hanya butuh dua menit untuk mengubah atmosfer stadion dari euforia menjadi tegang.

Inilah yang disebut momentum shift.

PSM sebenarnya tidak kehilangan dominasi. Ball possession tetap milik mereka. Tapi Persita bermain efektif. Tidak banyak sentuhan, langsung vertikal. Direct play. Clinical finishing.

Babak pertama ini seperti duel dua karakter. PSM agresif dan dominan. Persita sabar dan oportunis. Saling tikam. Saling balas.

Yang menarik, laga berjalan terbuka. Tidak ada parkir bus. Tidak ada main aman. Kedua tim berani ambil risiko. Dan risiko itu melahirkan empat gol.

Skor 2-2 di jeda bukan hanya soal keseimbangan angka. Ini tentang siapa yang mampu menjaga composure di babak kedua. Karena laga seperti ini sering ditentukan oleh detail kecil: satu salah positioning, satu miskomunikasi, satu momen lengah.

PSM sempat memegang momentum. Tapi di ujung babak pertama, Persita berhasil “mencurinya”.

Babak kedua tinggal soal satu hal: siapa yang lebih siap secara mental untuk menusuk lebih dalam. (edy)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.