Mamuju, Katasulsel.com – Kasus mengerikan di Mamuju, Sulbar, ini menjadi pelajaran penting.

Kelicikan pelaku kekerasan seksual sering tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari.

RD (42) yang mestinya jadi ayah pelindung anaknya, justru tega menyiksa anak kandungnya yang baru berusia 13 tahun, dengan trik licik agar perbuatannya tidak ketahuan keluarga.

Perbuatan bejatnya dilakukan di rumah kebun dan disertai ancaman agar korban diam.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Namun, perubahan perilaku sang anak—gelisah, takut, dan menutup diri—akhirnya memicu kecurigaan nenek dan bibi. Dari sinilah kebenaran terungkap.

Ipda Herman Basir, Kasi Humas Polresta Mamuju, menegaskan, “Korban diancam untuk tidak menceritakan kejadian kepada siapa pun. Peran keluarga sangat penting sebagai pelindung pertama.”

Kasus ini menjadi pengingat bahwa orang tua dan keluarga harus peka terhadap tanda-tanda perubahan perilaku anak.

Pendidikan tentang perlindungan diri, komunikasi terbuka, dan kepercayaan dalam keluarga adalah kunci untuk mencegah tragedi serupa.

Polresta Mamuju kini menahan RD dan memberikan perlindungan serta pendampingan psikologis untuk korban. Komitmen penegak hukum: melindungi anak, menjerat pelaku, dan mendidik masyarakat agar lebih waspada.

Pelajaran Edukatif:

Perhatikan perubahan perilaku anak, sekecil apa pun.
Bangun komunikasi terbuka agar anak berani menceritakan masalahnya.

Keluarga besar (nenek, bibi, paman) bisa jadi garda terdepan perlindungan anak.

Segera laporkan ke pihak berwenang bila ada tanda kekerasan atau ancaman. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita