Mugello, katasulsel.com – Ada satu momen yang membuat bendera Merah Putih sempat berkibar di papan atas sesi Practice Moto3 Italia 2026.
Nama Veda Ega Pratama tiba-tiba muncul di kelompok 10 besar.
Di tengah kepungan para pembalap Eropa yang sudah sangat akrab dengan karakter Sirkuit Mugello, rider muda Indonesia itu sempat menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pelengkap grid.
Namun Moto3 adalah kelas yang kejam.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Bukan hanya soal cepat, tetapi juga soal kapan mencatat waktu tercepat.
Ketika sesi memasuki fase akhir dan para pembalap mulai melakukan time attack, posisi Veda perlahan tergerus. Catatan waktunya tak lagi cukup untuk mempertahankan tempat di kelompok depan.
Saat bendera finis berkibar, pembalap asal Indonesia itu harus puas menutup sesi di posisi ke-21.
Hasil tersebut memang belum cukup untuk membawa Veda mendekati zona aman menuju kualifikasi terbaik. Namun angka di papan klasemen tidak sepenuhnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Mugello.
Di balik posisi ke-21, tersimpan sinyal yang jauh lebih menarik.
Veda terbukti memiliki kecepatan.
Masalahnya, kecepatan itu belum bertahan sepanjang sesi.
Pada Moto3 modern, selisih beberapa persepuluh detik bisa membuat seorang pembalap melonjak belasan posisi sekaligus. Begitu pula sebaliknya.
Itulah yang dialami Veda.
Saat sebagian rival menemukan momentum pada putaran terakhir, pembalap Indonesia itu gagal memaksimalkan kesempatan yang sama.
Akibatnya, namanya melorot dari papan tengah menuju barisan belakang.
Meski demikian, Mugello memberikan pelajaran penting.
Kecepatan satu lap sudah ada.
Keberanian untuk bertarung juga terlihat.
Yang masih dicari adalah konsistensi menjaga ritme ketika tekanan meningkat di penghujung sesi.
Bagi seorang rookie yang masih membangun pengalaman di level dunia, fase ini hampir tidak bisa dihindari.
Moto3 bukan sekadar adu gas.
Ini adalah pertarungan strategi, slipstream, pemilihan ban, hingga kemampuan membaca waktu terbaik untuk menyerang.
Di situlah para pembalap muda biasanya ditempa.
Kabar baiknya, jarak Veda dengan kelompok yang lebih tinggi sebenarnya tidak terlalu jauh.
Dalam kelas yang terkenal paling rapat di dunia balap motor tersebut, selisih kecil saja bisa mengubah posisi secara drastis.
Artinya, peluang untuk memperbaiki peringkat masih sangat terbuka.
Mugello mungkin belum menghadirkan hasil ideal bagi Veda Ega Pratama.
Namun sesi ini memperlihatkan satu hal penting: kecepatan untuk bersaing sudah mulai terlihat.
Tugas berikutnya adalah menjaga agar kejutan di awal sesi tidak lagi berakhir dengan kehilangan momentum saat pertarungan sesungguhnya dimulai. (*)
