Wajo, katasulsel.com β€” Ini bukan lagi perkelahian biasa.
Ini amarah yang dilepas tanpa rem.

Malam itu, sekitar pukul 19.00 Wita.
Pinggir persawahan Belawa.
Sunyiβ€”lalu pecah.

Dua pria berhadapan.
Tak ada mundur.

Video itu beredar.
Hanya enam detik.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Tapi cukup memperlihatkan satu hal:
serangan tanpa henti.

Bukan satu tusukan.
Bukan dua.

Berkali-kali.

Gerakan cepat.
Agresif.
Seolah memastikan lawan benar-benar jatuh.

Korban, Irwansyah (33), tak sempat menyelamatkan diri.
Tubuhnya ambruk.
Menyamping.
Kaki terlipat.

Darah membasahi tanah sawah.

Suara panik terdengar dari dalam mobil:
β€œWee kasina…” suara wanita yang sedang melintas.

Setelah itu, senyap.

Warga berdatangan.
Tapi semua sudah selesai.

Yang tersisa hanya jejak kekerasan:
ponsel dengan flash menyala,
sarung badik terlepas,
motor tergeletak dengan lampu hidup.

Irwansyah sempat dibawa ke puskesmas.
Namun luka-lukanya terlalu parah.
Nyawanya tak tertolong.

Pelaku, Rahmat (32), tak sempat jauh.
Polisi mengamankan.

Motifnya klasik.
Cemburu. Dugaan ini sedang didalami polisi.

Tapi cara menghabisinyaβ€”
brutal.

Polisi masih menyusun kronologi.
Menggali keterangan.

Namun satu hal sudah terang:

Ini bukan duel seimbang.
Ini serangan bertubi-tubi.

Tusukan demi tusukanβ€”
hingga satu nyawa benar-benar berhenti.

Belawa malam itu gelap.
Lebih gelap dari biasanya.

Dan enam detik video ituβ€”
cukup untuk menjelaskan semuanya. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita