WAJO, Katasulsel.com — Jalan Sepakat, Desa Batu, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Kamis (14/5/2026) sore, biasanya hanya jadi lintasan warga menuju kebun. Sepi, sederhana, dan nyaris tak pernah jadi sorotan. Tapi hari itu, suasananya berubah drastis—dari jalur biasa menjadi lokasi yang membuat warga terdiam lama.

Semua bermula dari satu hal kecil: bau menyengat yang tidak biasa.

Seorang warga yang melintas sekitar pukul 15.30 WITA awalnya mengira itu hanya bau sampah atau bangkai hewan. Namun semakin dekat ke sumbernya, firasat buruk tak bisa dihindari. Saat ditelusuri lebih jauh, pemandangan yang ditemukan membuat langkah kaki langsung terhenti—sesosok tubuh manusia sudah tak bernyawa di pinggir jalur kebun.

Dalam hitungan menit, kabar itu menyebar cepat. Warga berdatangan, sebagian hanya berdiri dari kejauhan, sebagian lain tampak tak percaya dengan apa yang mereka lihat di jalur yang sehari-hari mereka lewati tanpa rasa curiga.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Korban kemudian diketahui berjenis kelamin laki-laki. Dari identitas yang ditemukan di saku celana, ia adalah Muh. Algi Aprisal (18), seorang pelajar asal Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu.

“Benar, kami menerima laporan adanya penemuan mayat di wilayah Desa Batu. Setelah dicek identitasnya, korban merupakan pelajar asal Kabupaten Luwu,” ujar Kapolsek Urban Pitumpanua, AKP Andi Suhidin.

Yang membuat peristiwa ini semakin menyisakan tanda tanya adalah lokasi penemuan yang berada di jalur kebun—bukan area ramai, bukan pula tempat aktivitas umum. Justru di situlah tubuh korban ditemukan, di ruang yang biasanya hanya dilalui orang-orang yang punya tujuan pasti: ke ladang atau kembali dari kebun.

Saksi pertama yang menemukan korban mengaku awalnya hanya terganggu oleh bau busuk yang makin kuat. Rasa curiga membuatnya tidak langsung pergi, melainkan menelusuri sumber bau hingga akhirnya menemukan jasad tersebut.

Temuan itu langsung mengubah suasana desa. Jalur yang biasanya sepi mendadak jadi titik kumpul warga, sebelum aparat desa dan kepolisian datang mengamankan lokasi.

Dari hasil pemeriksaan awal di tempat kejadian, polisi menemukan luka retak pada bagian tengkorak kepala korban serta patah pada tulang kaki kanan. Di sekitar lokasi juga ditemukan sepasang sandal yang kini diamankan sebagai barang bukti.

Namun di balik temuan fisik itu, banyak hal masih belum terjawab. Bagaimana korban bisa berada di jalur tersebut, dalam kondisi seperti itu, masih menjadi bagian dari penyelidikan yang terus berjalan.

Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Siwa untuk dilakukan visum et repertum (VER) guna memastikan penyebab kematian secara medis.

“Hingga saat ini kami masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian korban,” ujar Kapolsek menegaskan.

Kini, jalur kebun yang biasanya dilewati tanpa perhatian khusus berubah jadi ruang sunyi yang penuh tanda tanya. Bagi warga setempat, tempat itu bukan lagi sekadar jalan kecil—melainkan titik yang membuat langkah kaki terasa sedikit lebih berat dari biasanya.(*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 15 Mei 2026 20:02 WIB