ENREKANG, Katasulsel.com — Suasana sejuk Villa Bambapuang, Kotu, Jumat (15/5/2026), jadi tempat berkumpulnya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Selatan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD IMM Sulsel. Di tengah perbukitan yang tenang, yang dibahas justru hal-hal yang dekat dengan “urusan perut daerah”: pembangunan, anggaran, sampai masa depan Enrekang.
Mengusung tema “Sinergi Mengokohkan Gerakan”, Rakorda ini terasa lebih seperti ruang tukar pikiran ketimbang sekadar agenda organisasi. Mahasiswa dan pemerintah duduk dalam satu forum, membicarakan satu hal yang sama: bagaimana daerah ini tetap jalan meski kondisi keuangan lagi ketat.
Bupati Enrekang H. Muh. Yusuf Ritangnga yang membuka kegiatan itu, tidak banyak berputar-putar. Ia langsung menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting yang tidak bisa hanya diam di kampus.
“Mahasiswa itu bukan cuma penonton. Harus jadi motor penggerak dan motor perjuangan pembangunan daerah,” ujarnya.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Bahasanya sederhana, tapi pesannya jelas: daerah ini tidak bisa jalan sendiri. Butuh tenaga tambahan dari anak muda yang punya ide dan tidak hanya mengkritik dari jauh.
Bupati juga blak-blakan soal kondisi keuangan daerah yang sedang tidak longgar. Ia menyebut saat ini pemerintah daerah sedang menghadapi situasi efisiensi anggaran, yang otomatis membuat banyak program harus diatur lebih hati-hati.
“Kondisi keuangan daerah sedang tidak baik karena efisiensi,” katanya.
Artinya, tidak semua hal bisa langsung dieksekusi cepat seperti yang diharapkan masyarakat. Ada keterbatasan yang harus diatur pelan-pelan.
Di titik ini, Bupati justru mengajak mahasiswa untuk ikut “masuk dapur”, bukan hanya berdiri di luar melihat hasilnya. Menurutnya, Enrekang butuh orang-orang yang tidak hanya pintar bicara, tapi juga bisa kasih jalan keluar.
“Enrekang butuh orang-orang yang punya visi dan mau menyumbang pikiran,” tambahnya.
Menariknya, Rakorda ini tidak berhenti di tataran diskusi. Di momen yang sama, Ketua Umum PC IMM Enrekang, Muh. Zam Tito Pakarangi, menyerahkan Naskah Akademik Strategi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada Bupati.
Buat sebagian orang, itu mungkin hanya dokumen. Tapi di forum itu, itu jadi simbol sederhana: mahasiswa tidak hanya protes, tapi juga mulai bawa solusi.
Di Bambapuang hari itu, obrolannya tidak muluk-muluk. Lebih banyak soal bagaimana daerah bisa tetap jalan di tengah kondisi yang serba diatur ketat. Dan di tengah itu semua, mahasiswa diminta tidak cuma jadi penonton—tapi ikut jadi bagian yang mendorong roda tetap berputar. (fungfi)
Update terbaru: 15 Mei 2026 20:18 WIB
