BARCELONA — Moto3 Catalunya akhir pekan ini bisa jadi salah satu balapan paling “berisik” dalam karier Veda Ega Pratama.

Bukan berisik karena suara mesin.

Tetapi karena tekanan, permainan taktik, sampai perang slipstream yang biasanya brutal di kelas Moto3.

Di lintasan seperti Circuit de Barcelona-Catalunya, pembalap tidak cukup cuma cepat.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Mereka harus paham race craft.

Harus tahu kapan menempel lawan. Kapan menyerang. Kapan pura-pura menunggu.

Sebab di Moto3, satu tikungan saja bisa mengubah lima posisi sekaligus.

Dan Catalunya terkenal sebagai sirkuit yang sangat “pelit” untuk pembalap yang salah ambil keputusan.

Di sinilah tantangan besar Veda dimulai.

Mayoritas rivalnya adalah anak-anak Eropa yang tumbuh di Catalunya sejak kecil.

Mereka bukan sekadar hafal tikungan.

Mereka hafal karakter angin di trek lurus. Tahu kapan grip aspal berubah. Bahkan paham bagian mana yang paling enak buat cari slipstream sebelum masuk Turn 1.

Dalam bahasa paddock Moto3, ini disebut “home circuit advantage”.

Keuntungan kandang yang kadang tidak terlihat di data lap time.

Tetapi sangat terasa saat duel lap terakhir.

Nama seperti Máximo Quiles dan Adrián Fernández diprediksi bakal memainkan strategi klasik Moto3: towing dan late braking.

Towing adalah teknik “nebeng angin” di belakang motor lawan untuk mendapat tambahan kecepatan di trek lurus.

Sedangkan late braking adalah manuver pengereman super mepet yang sering bikin duel Moto3 terlihat nekat.

Dan Catalunya adalah tempat yang sangat cocok untuk dua gaya itu.

Makanya, balapan di sini sering berubah jadi gerbong panjang.

Satu grup bisa berisi belasan pembalap saling tempel dari lap awal sampai finis.

Masalahnya, pembalap rookie biasanya gampang terpancing ikut irama liar seperti itu.

Sekali overpush, ban depan habis.

Sekali salah apex, posisi langsung hilang.

Di sinilah menariknya melihat perkembangan Veda Ega Pratama musim ini.

Veda mulai berubah.

Ia tidak lagi balapan dengan gaya “pokoknya gas”.

Di Le Mans misalnya, ia menunjukkan satu hal penting dalam dunia balap: tyre management.

Kemampuan menjaga ban tetap hidup sampai lap terakhir.

Ini skill mahal di Moto3.

Karena banyak pembalap muda cepat di awal, lalu habis di akhir.

Sementara Veda mulai terlihat lebih sabar membaca ritme.

Selanjutnya…………

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 15 Mei 2026 15:04 WIB