Ia juga mulai memahami dirty air — kondisi ketika motor sulit stabil karena terlalu lama berada di belakang lawan dalam kecepatan tinggi.

Hal-hal seperti ini biasanya baru dipahami pembalap setelah bertahun-tahun di Grand Prix.

Makanya banyak pengamat mulai menyebut Veda bukan sekadar cepat, tetapi punya racing IQ yang berkembang cepat.

Dan Catalunya adalah ujian paling pas untuk membuktikan itu.

Sebab di sirkuit ini, pembalap tidak bisa hanya mengandalkan keberanian.

Mereka harus pintar memainkan momentum.

Harus tahu kapan masuk slipstream.

Kapan keluar dari “kereta” pembalap.

Dan kapan melakukan last lap attack tanpa membuka celah untuk disalip balik.

Kalau mampu bertahan di grup depan Catalunya sampai lap terakhir, itu sudah jadi sinyal besar.

Artinya Veda Ega Pratama mulai benar-benar masuk level pertarungan Moto3 dunia.

Dan bagi publik Indonesia, itu jauh lebih menarik daripada sekadar melihat hasil finis di papan klasemen. (*)