Makassar, Katasulsel.com — Dinamika menuju pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan periode 2026-2031 mulai menemukan bentuknya. Tiga nama resmi masuk gelanggang. Tiga poros. Tiga gaya kepemimpinan. Dan tiga representasi kultur media yang berbeda.
Mereka adalah Suwardi Thahir, Abdul Manaf Rachman, dan Amrullah Basri.
Batas pengembalian formulir bakal calon resmi ditutup Rabu, 13 Mei 2026. Tidak ada nama baru muncul di injury time. Artinya, kontestasi PWI Sulsel kali ini akan berlangsung dalam âpertarungan segitigaâ yang relatif terbaca, tetapi tetap menyimpan manuver senyap khas organisasi profesi.
Juru Bicara Konferensi Provinsi PWI Sulsel 2026, Muhammad Arafah, memastikan hanya tiga nama tersebut yang mengembalikan formulir pencalonan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Tahapan berikutnya memasuki fase yang dalam dunia organisasi disebut âscreening politik administratifâ. Tim TPP atau Penyaringan dan Penjaringan akan memverifikasi seluruh berkas kandidat sebelum dikirim ke PWI Pusat.
Jika tidak ada turbulensi administratif, penetapan resmi calon Ketua PWI Sulsel akan diumumkan melalui SK PWI Pusat pada 20 Mei 2026.
Lalu, puncaknya: Konferensi Provinsi PWI Sulsel pada 2 Juni 2026 di Gedung Guru M Jusuf Kalla, Makassar.
Diperkirakan sekitar 600 anggota PWI dengan hak suara akan hadir. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran organisasi profesi daerah. Ini bukan sekadar pemilihan ketua. Ini âperebutan arahâ.
Arena Ini Bukan Sekadar Organisasi
Di luar publik, banyak yang masih memandang PWI hanya sebagai organisasi wartawan biasa. Padahal, di internal ekosistem media, posisi Ketua PWI memiliki efek strategis.
Ia bukan cuma simbol profesi, tetapi juga âgatekeeper ekosistem persâ.
Ketua PWI bisa memengaruhi arah penguatan kompetensi wartawan, hubungan dengan pemerintah daerah, pola advokasi kasus pers, hingga distribusi pengaruh di ruang-ruang media lokal.
Karena itu, kontestasi PWI hampir selalu punya aroma âpolitik newsroomâ.
Bukan politik praktis.
Tetapi politik pengaruh.
Suwardi: Representasi Senioritas dan Struktur
Nama Suwardi Thahir datang dengan modal paling komplet dari sisi struktur organisasi dan rekam jejak newsroom.
Ia bukan wajah baru di tubuh PWI Sulsel. Saat ini menjabat Wakil Ketua PWI Sulsel. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Harian Fajarâsalah satu institusi media paling berpengaruh di kawasan timur Indonesia.
Dalam teori organisasi media, figur seperti Suwardi disebut memiliki âinstitutional capitalâ. Jaringan kuat, legitimasi senior, dan pengalaman panjang dalam manajemen redaksi.
Tambahan lagi, ia juga Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat dan Wakil Ketua Forum Pemimpin Redaksi Multimedia Indonesia.
Artinya, positioning Suwardi bukan sekadar lokal.
Ia sudah bermain di level ekosistem pers nasional.
Di internal organisasi, model kepemimpinan seperti ini biasanya disukai kelompok yang menginginkan stabilitas dan kesinambungan.
Manaf: Jalur Organik dan Loyalitas Lapangan
Berbeda dengan Suwardi yang kuat di struktur elite media, Abdul Manaf Rachman tumbuh dari kultur wartawan lapangan.
Ia pernah menjadi wartawan Harian Pedoman Rakyatâmedia legendaris yang melahirkan banyak jurnalis Sulsel era lama.
Kini menjabat Pemimpin Redaksi Media Sinergi dan Wakil Ketua PWI Sulsel.
Dalam bahasa politik organisasi, Manaf bisa disebut membawa âarus organikâ.
Ia dekat dengan kultur anggota. Tidak terlalu elitis. Punya jejaring emosional yang kuat dengan wartawan daerah dan komunitas media menengah.
Biasanya, tipe kandidat seperti ini bergerak efektif lewat komunikasi personal, bukan gemuruh deklarasi.
Politiknya senyap.
Tetapi sering efektif di ruang voting.
Amrullah: Wajah Korporasi Media Baru
Sementara Amrullah Basri hadir dari spektrum berbeda.
Ia Direktur PT Media Fajar Indonesia.
Bukan semata figur organisasi, tetapi representasi manajemen media modern.
Di era industri pers yang sedang mengalami disrupsi digital, munculnya figur berlatar korporasi media menjadi menarik.
Sebab tantangan PWI hari ini tidak lagi hanya soal etik jurnalistik.
Tetapi juga sustainability media.
Bagaimana media bertahan di tengah tekanan algoritma, migrasi iklan digital, penurunan oplah, dan perang traffic.
Figur seperti Amrullah bisa dibaca sebagai simbol kebutuhan transformasi.
Bahwa organisasi wartawan mungkin tak cukup lagi dipimpin hanya dengan pendekatan tradisional.
PWI Sulsel Sedang Memasuki Momentum Rebranding
Yang menarik, kontestasi kali ini berlangsung di tengah perubahan besar dunia pers.
Artificial intelligence mulai menggerus kerja newsroom.
Media sosial mengacak otoritas informasi.
Citizen journalism membuat batas wartawan dan publik makin kabur.
Di tengah situasi itu, PWI Sulsel sedang menghadapi momentum penting: bertahan sebagai organisasi simbolik atau naik kelas menjadi organisasi profesi yang relevan.
Karena itu, konferensi nanti sejatinya bukan cuma memilih ketua.
Tetapi memilih model kepemimpinan.
Apakah PWI Sulsel akan tetap bertumpu pada senioritas newsroom, kekuatan jaringan akar rumput, atau transformasi korporasi media modern.
Tiga kandidat.
Tiga arus.
Dan satu pertanyaan besar:
Siapa yang paling mampu membaca masa depan pers Sulawesi Selatan?
Update terbaru: 15 Mei 2026 16:30 WIB
