MAKKAH, Katasulsel.com β Di tengah ribuan jemaah yang memadati Tanah Suci, kisah seorang pria asal Sulawesi Selatan ini mencuri perhatian hingga ke tingkat yang tak biasa. Seorang jemaah haji asal Kabupaten Sinjai, Saifuddin HM Abd Muin Saideng, mendapat kehormatan istimewa dari Pemerintah Arab Saudi: namanya akan diabadikan pada pembangunan masjid dan wakaf di Makkah.
Bukan sekadar penghormatan biasa, langkah itu disebut sebagai bentuk apresiasi atas keteguhan seorang jemaah yang datang ke Tanah Suci dengan keterbatasan fisik, namun membawa keteguhan yang utuh.
βMereka ingin membangun masjid dan wakaf atas nama jemaah sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan,β ujar Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) asal Sinjai, Faried Wajedi, di Makkah, Rabu (13/5/2026).
Saifuddin bukan nama besar di panggung dunia. Namun di kampung halamannya, ia dikenal sebagai sosok sederhana yang sehari-hari menjadi imam masjid meski memiliki keterbatasan penglihatan. Status tunanetra tidak pernah membuatnya berhenti berdiri di saf terdepan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Perjalanannya menuju Makkah pun bukan perjalanan singkat. Ia menabung selama 20 tahun, sedikit demi sedikit, sabar demi sabar, hingga akhirnya bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci pada musim haji 2026.
Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah cara ia menjalani ibadah. Dalam keterbatasan pandangan, ia justru tampak seperti punya βpandangan lainβ yang lebih kuat: keyakinan yang tidak goyah oleh waktu.
Pemerintah Arab Saudi sendiri disebut datang langsung ke lokasi jemaah menginap di Hotel 608 Al-Hadaiq Al-Raqiah, kawasan Jarwal, Makkah. Mereka mencari dua jemaah tertuaβlaki-laki dan perempuanβsebagai bentuk penghormatan khusus.
Di pertemuan itu, suasana berlangsung hangat. Saifuddin dan seorang jemaah perempuan asal Sulsel lainnya mendapat ucapan selamat datang sekaligus hadiah istimewa. Faried Wajedi turut hadir sebagai penerjemah dalam momen yang jarang terjadi itu.
βMereka datang khusus memberikan ucapan selamat datang dan hadiah kepada kedua jemaah tersebut,β jelas Faried.
Kisah Saifuddin kemudian menjadi lebih dari sekadar cerita haji. Ia berubah menjadi simbol bahwa keterbatasan tidak selalu berarti hambatan. Justru di tengah keterbatasan itu, ada keteguhan yang bisa mengundang penghormatan lintas negara.
Dari Sinjai ke Makkah, dari tabungan 20 tahun hingga namanya diabadikan di Tanah Suciβkisah ini seolah mengingatkan bahwa perjalanan spiritual tidak selalu diukur dari langkah kaki, tetapi dari seberapa kuat hati bertahan sampai tujuan.
(*)
Update terbaru: 15 Mei 2026 20:14 WIB
