Jakarta, Katasulsel.com — Banyak orang sering kaget saat tagihan listrik datang. Kadang merasa “kok naik lagi?”, padahal katanya tarif tidak berubah. Nah, PT PLN (Persero) mengingatkan: yang sering berubah itu bukan tarifnya, tapi cara kita memakai listrik di rumah.
PLN mengajak masyarakat lebih paham bahwa listrik itu seperti air di ember—bukan cuma soal harga airnya, tapi seberapa banyak kita menimba dan pakai setiap hari.
General Manager PT PLN (Persero) UID Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar), Edyansyah, menjelaskan kalau jumlah pembayaran listrik bisa beda-beda tiap bulan karena dipengaruhi pemakaian dan beberapa komponen lain yang sudah diatur pemerintah daerah.
“PLN mendukung pelanggan memahami bahwa pembayaran listrik tidak hanya dipengaruhi tarif listrik, tapi juga pola penggunaan energi serta komponen lain sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Ia menegaskan lagi, tarif listrik rumah tangga sebenarnya tidak naik sejak Juli 2022. Jadi kalau tagihan terasa berubah, biasanya karena pemakaian yang ikut berubah—misalnya lebih sering nyalakan AC, tambah alat elektronik, atau pemakaian malam hari yang lebih lama.
Untuk pelanggan pascabayar, hitungannya simpel tapi detail: yang dipakai di meter (kWh) jadi dasar, lalu ditambah pajak daerah, PPN untuk golongan tertentu, dan biaya materai.
Sementara untuk pengguna token (prabayar), uang yang dibayar tidak langsung 100 persen jadi listrik. Ada potongan dulu untuk pajak daerah (PBJT-TL), baru sisanya jadi kWh yang bisa dipakai. Jadi kadang orang merasa “kok token cepat habis”, padahal memang sudah ada komponen yang dipotong di awal.
Contohnya begini: kalau beli token Rp200 ribu untuk daya 2.200 VA, setelah dipotong biaya admin dan pajak daerah, yang benar-benar jadi listrik sekitar Rp179 ribu. Itu kalau dihitung-hitung setara kurang lebih 123,96 kWh.
PLN juga mengingatkan, baik prabayar maupun pascabayar ujungnya sama: semakin banyak alat listrik nyala, makin besar juga yang harus dibayar. Tidak ada sihir di sini—semuanya mengikuti pemakaian.
Biar masyarakat lebih gampang kontrol, PLN sekarang mendorong penggunaan aplikasi PLN Mobile. Di situ ada fitur Swacam (Swadaya Catat Meter), jadi pelanggan bisa foto sendiri angka meter listrik di rumah.
Caranya juga simpel: buka aplikasi, pilih Swacam, pilih ID pelanggan, foto angka meter, lalu kirim. Dengan begitu, pelanggan bisa “pegang kendali” sendiri pemakaian listriknya, tidak hanya menunggu tagihan datang.
“Kalau paham cara pakainya, listrik bisa lebih hemat dan sesuai kebutuhan,” kata Edyansyah.
Intinya sederhana: listrik itu bukan sekadar angka di kertas tagihan, tapi kebiasaan sehari-hari. Mau hemat atau boros, semuanya dimulai dari rumah sendiri—dari kebiasaan kecil, seperti lampu yang lupa dimatikan atau AC yang terus hidup walau ruangan sudah kosong. (*)
Update terbaru: 15 Mei 2026 19:33 WIB
