SIDRAP, Katasulsel.com — Langit Tellu Limpoe, Jumat (15/5/2026), belum benar-benar bersahabat. Petir sesekali memecah awan, rintik hujan turun tanpa henti, sementara beberapa titik jalan di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), masih tergenang air.

Namun cuaca itu tidak menjadi alasan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, untuk berhenti di balik meja. Di tengah kondisi yang masih basah dan licin, ia justru turun langsung mengelilingi titik-titik terdampak banjir.

Dari kawasan Bu’ae, Watang Pulu, hingga Tellu Limpoe, rombongan bupati menyusuri genangan yang menunjukkan satu hal sederhana: air datang lebih cepat daripada kesiapan saluran.

Di sela hujan yang belum reda, Syaharuddin menegaskan bahwa banjir kali ini bukan hanya soal curah hujan tinggi, tetapi juga soal perubahan wajah lingkungan yang terjadi perlahan tapi pasti.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Tingkat intensitas hujannya tinggi. Akhirnya debit air juga tinggi,” ujarnya di tengah peninjauan.

Namun ia tidak berhenti di situ. Matanya juga menangkap perubahan yang lebih panjang dari sekadar cuaca hari itu—perubahan tata guna lahan. Kawasan yang dulu hijau dan menyerap air, kini banyak berubah menjadi area pertanian monokultur.

“Dulu seperti Gunung Baula, sekarang sudah berubah menjadi jagung semuanya. Serapan air berkurang,” ungkapnya. Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa kondisi tersebut adalah realitas yang harus dihadapi, karena pertanian juga bagian dari kehidupan warga.

Di Kelurahan Toddang Bulu, hujan yang masih turun membuat genangan terlihat lebih nyata. Di lokasi ini, bupati menunjuk langsung dua titik yang disebut sebagai biang utama masalah banjir—temuan yang sejatinya sudah teridentifikasi sejak banjir awal tahun.

Titik pertama berada di depan puskesmas, di mana saluran air sempat tertutup dan kini mulai dibuka kembali. Titik kedua tak jauh dari masjid, di mana drainase yang sebelumnya berfungsi justru menyempit dan tertutup.

Di bawah rintik hujan, instruksi pun langsung diberikan. Camat Tellu Limpoe dan Ketua Pembangunan diminta segera menghitung kebutuhan anggaran untuk pembongkaran dan pembuatan saluran baru.

Di sisi lain, Bupati juga menyoroti masalah klasik yang selalu muncul saat banjir: penyempitan saluran air dan kebiasaan membuang sampah sembarangan yang ikut menyumbat aliran.

“Bagian ini sempit sampai membuang ke arah sana,” katanya sambil menunjuk jalur air yang tak lagi leluasa mengalir.

Meski kondisi lapangan dipenuhi air dan cuaca belum bersahabat, ia menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur tetap berjalan dalam skala besar. Saluran sekunder yang menghubungkan sejumlah wilayah disebut sudah dibangun tahun sebelumnya, dan kini akan dilanjutkan pengerukan serta perluasan jaringan drainase oleh Dinas PSDA.

Di sela peninjauan yang masih dibayangi petir, Bupati juga memastikan bahwa perbaikan jalan rusak menjadi prioritas tahun anggaran ini, khususnya di Amparita, Arateng, Baula, hingga Toddang Bulu.

“Tahun ini saya membereskan dulu jalanan… semuanya akan saya bereskan,” tegasnya di tengah hujan yang belum juga berhenti.

Namun dari semua catatan teknis itu, ada satu pesan yang terus diulang: pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ia mengajak masyarakat kembali menghidupkan kerja bakti dan gotong royong, terutama untuk menjaga selokan tetap bersih sebelum air kembali datang.

“Kerja sama pemerintah, masyarakat, dan tokoh masyarakat,” pungkasnya.

Di bawah langit yang masih gelap dan basah itu, peninjauan berakhir bukan dengan keringnya cuaca, tetapi dengan satu kesadaran: banjir tidak hanya datang dari langit, tetapi juga dari daratan yang perlahan berubah.

Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 15 Mei 2026 19:39 WIB