Ia melihat sendiri apa yang dilakukan bupatinya dini hari itu. Dan sejak malam tersebut, Ridwan Bachtiar mengaku sulit melupakan satu pemandangan.
Oleh: Edy Basri
Ridwan Bachtiar masih ingat betul malam itu.
Sangat ingat.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Bahkan mungkin akan terus ia ingat bertahun-tahun ke depan.
Bukan karena banjirnya.
Bukan pula karena hujan deras yang membuat Kelurahan Amparita berubah seperti lautan kecil.
Tetapi karena sosok yang datang di tengah malam itu.
Ridwan yang menjabat Camat Tellu Limpoe sebenarnya sudah terbiasa menghadapi situasi darurat. Ia paham bagaimana paniknya warga ketika air mulai masuk rumah. Ia juga tahu bagaimana biasanya pejabat datang ke lokasi bencana.
Ada yang datang pagi hari.
Ada yang menunggu laporan lengkap lebih dulu.
Ada pula yang cukup memantau dari telepon.
Semua itu biasa.
Tetapi malam Jumat, 15 Mei 2026 itu tidak biasa.
Sebab orang yang baru saja tiba dari Jakarta justru langsung meminta dibawa ke lokasi banjir.
Orang itu adalah Syaharuddin Alrif.
“Jujur, saya sempat terdiam,” kata Ridwan pelan.
Ia mengaku awalnya tidak percaya ketika mendapat kabar bahwa bupati Sidrap itu tidak menuju rumah jabatan setelah perjalanan dinasnya selesai.
Yang dituju justru Amparita.
Daerah yang malam itu sedang dikepung genangan.
“Beliau baru turun perjalanan jauh. Sudah tengah malam. Tapi yang dipikirkan pertama justru kondisi warga,” ujar Ridwan.
Kalimat itu diucapkannya perlahan.
Seolah ia sendiri masih memutar kembali kejadian malam tersebut dalam kepalanya.
Ridwan lalu menceritakan bagaimana Syaharuddin tiba tanpa banyak protokoler. Mengenakan seragam BPBD dan sepatu bot hitam, ia langsung turun ke genangan.
Air saat itu tidak rendah.
Di beberapa titik setinggi lutut.
Di titik lain nyaris mencapai pusar orang dewasa.
Tetapi Syaharuddin tetap berjalan masuk ke lorong-lorong warga.
“Beliau tidak hanya berdiri melihat dari jauh. Beliau benar-benar masuk ke titik banjir,” kata Ridwan.
Yang membuatnya makin kagum, menurut Ridwan, adalah sikap alami sang bupati.
Tidak ada kesan sedang mencari perhatian.
Tidak ada drama.
Tidak ada gaya dibuat-buat.
Yang ada hanya seorang kepala daerah yang terlihat sangat khawatir pada keadaan rakyatnya.
“Saya baru kali ini melihat ada seorang pemimpin seperti beliau,” ujar Ridwan.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Jujur.
Tanpa naskah.
Tanpa pencitraan.
Ridwan mengaku selama menjadi camat ia sudah berkali-kali mendampingi kunjungan pejabat. Namun pengalaman malam di Amparita memberikan kesan berbeda baginya.
“Saya melihat sendiri beliau capek sekali pasti. Baru dari Jakarta. Tapi beliau tidak memikirkan istirahatnya dulu,” katanya.
Yang dipikirkan Syaharuddin malam itu hanya satu: warga.
Ia bertanya langsung kepada masyarakat.
Ada yang sakit atau tidak.
Anak-anak aman atau tidak.
Selanjutnya…………..
Update terbaru: 15 Mei 2026 13:00 WIB
