Tidak semua pemimpin mau kehilangan tidur demi rakyatnya. Berbeda dengan bupati di Sulawesi Selatan ini.
Oleh: Edy Basri
Ya, siapa lagi, kalau bukan Syaharuddin Alrif atau akrab disapa Syahar.
Kisahnya terjadi di Amparita, wilayah bagian selatan Sidrap. Warga melihat sendiri, ada bupati yang memilih berdiri di tengah banjir daripada beristirahat di rumah jabatan (Rujab).
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Malam sudah terlalu larut sebenarnya.
Jam-jam ketika kebanyakan orang memilih mematikan lampu kamar dan menarik selimut lebih rapat.
Hujan pun belum benar-benar berhenti.
Gerimis masih turun tipis-tipis di wilayah yang dipimpin oleh Camat Ridwan Bachtiar itu.
Angin dingin sesekali menyapu lorong-lorong kecil yang sudah dipenuhi air berwarna cokelatan.
Sebagian warga belum tidur.
Ya. Mana mungkin bisa tidur jika air terus masuk ke rumah.
Ada yang sibuk mengangkat kulkas.
Ada yang memindahkan televisi ke atas lemari.
Ada ibu-ibu yang memilih duduk sambil memeluk anaknya di atas dipan kayu.
Ada pula warga lanjut usia yang hanya memandangi halaman rumahnya yang sudah berubah seperti sungai kecil.
Di Amparita malam itu, orang-orang sedang berusaha menyelamatkan apa saja yang masih bisa diselamatkan.
Lalu sebuah kabar menyebar cepat dari mulut ke mulut.
“Pak bupati datang.”
Awalnya banyak yang tidak percaya.
Datang?
Sekarang?
Bukannya beliau baru pulang dari Jakarta?
Iya benar, benar sekali.
Tetapi, beberapa menit kemudian, warga benar-benar melihatnya.
Syaharuddin Alrif turun dari kendaraan dengan seragam BPBD dan sepatu bot hitam. Tidak terlihat wajah lelah yang dibuat-buat. Tidak ada gaya formal khas pejabat yang menjaga jarak.
Ia langsung berjalan menuju genangan.
Tanpa banyak bicara.
Tanpa menunggu dipayungi.
Tanpa menunggu kondisi aman.
Air malam itu tidak rendah. Di beberapa titik mencapai lutut. Di titik lain hampir menyentuh pusar orang dewasa. Arus kecil terus bergerak melewati lorong-lorong pemukiman.
Tetapi Syaharuddin tetap masuk.
Ia berjalan perlahan menembus air. Syahar menerabas banjir. Bukan menerobos, sebab kata itu terlalu sederhana dibanding apa yang dilakukannya.
Kata warga, terlalu berani, berisiko bagi seorang pemimpin. Namun, tak mengapa, itulah Syahar. Itulah pentingnya memiliki bupati pemberani, mau, peduli.
Sesekali, ia menunduk agar langkahnya tidak salah pijak. Lampu senter dari petugas memantulkan bayangan tubuhnya di permukaan genangan.
Di belakangnya, Camat Tellu Limpoe Ridwan Bachtiar bersama sejumlah aparat terkait ikut mendampingi pemantauan.
Tidak ada panggung malam itu.
Tidak ada sambutan.
Tidak ada tepuk tangan.
Yang ada hanya wajah-wajah warga yang mulai tenang karena merasa pemerintah benar-benar hadir di tengah mereka.
Itu penting.
Sangat penting.
Sebab dalam bencana, rasa takut sering kali datang bukan hanya karena air yang naik.
Tetapi karena perasaan ditinggalkan.
Karena itu, kehadiran seorang pemimpin di lokasi bencana sering kali lebih berarti daripada pidato panjang di ruang rapat.
Dan Syaharuddin tampaknya memahami itu.
Ia berhenti di depan satu rumah yang nyaris seluruh terasnya terendam.
Seorang ibu berdiri di sana sambil menggendong anak kecil.
“Air masuk sejak kapan?” tanyanya pelan.
“Dari habis Isya, Pak.”
“Anaknya sehat?”
“Alhamdulillah.”
Ia mengangguk.
Lalu melanjutkan langkah.
Di rumah lain, ia bertanya apakah ada warga sakit. Apakah kebutuhan makanan cukup. Apakah ada lansia yang perlu dievakuasi lebih dulu.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana.
Tetapi terasa sangat manusiawi.
Karena malam itu warga tidak membutuhkan bahasa pejabat.
Selanjutnya……………
Update terbaru: 15 Mei 2026 12:29 WIB
