Mereka hanya ingin didengar.
Mereka hanya ingin diyakinkan bahwa mereka tidak menghadapi banjir sendirian.
Dan Syaharuddin memberikan itu dengan cara paling sederhana: datang langsung.
Barangkali di situlah letak bedanya.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Banyak pemimpin bisa berbicara soal empati.
Tetapi tidak semua mau basah-basahan di tengah malam setelah perjalanan dinas luar kota.
Tidak semua mau turun ketika kamera media belum tentu datang.
Tidak semua rela menukar waktu istirahatnya dengan berjalan di air banjir setinggi pusar.
Tetapi malam itu, Syaharuddin melakukannya.
Ia baru saja tiba dari Jakarta.
Tubuhnya pasti lelah.
Perjalanan udara, agenda rapat, aktivitas pemerintahan—semuanya tentu menguras energi.
Namun begitu mendapat laporan banjir di Amparita, arah mobilnya bukan menuju rumah pribadi atau rumah jabatan.
Melainkan menuju lokasi genangan.
Mungkin bagi sebagian orang itu terlihat biasa.
Tetapi bagi warga yang rumahnya sedang dimasuki air, tindakan kecil seperti itu terasa sangat besar.
Karena rakyat sebenarnya mudah membaca ketulusan.
Mereka tahu mana kunjungan yang sekadar formalitas.
Mana yang benar-benar lahir dari kepedulian.
Dan dini hari itu, warga Amparita melihat sendiri bupatinya datang dalam situasi yang paling tidak nyaman.
Tanpa pencitraan berlebihan.
Tanpa pengumuman besar-besaran.
Hanya ada sepatu bot, seragam lapangan, dan langkah yang terus menyusuri banjir.
Di tengah pemantauan itu, Syaharuddin juga memberi instruksi tegas kepada petugas gabungan.
Tidak panjang.
Tidak retoris.
“Petugas harus siaga 24 jam.”
“Evakuasi dipercepat.”
“Logistik jangan terlambat.”
“Obat-obatan harus segera sampai.”
Instruksi itu meluncur cepat di tengah suara air dan gerimis malam.
Ia tahu, dalam kondisi seperti itu, yang dibutuhkan warga bukan birokrasi panjang.
Tetapi kecepatan.
Sebab satu malam saja tanpa bantuan bisa terasa sangat panjang bagi korban banjir.
Di Amparita, banjir memang bukan cerita baru.
Warga sudah terlalu akrab dengan air yang datang setiap musim hujan. Mereka hafal titik mana yang pertama terendam. Mereka tahu rumah siapa yang biasanya paling dulu kemasukan air.
Tetapi justru karena itulah, warga ingin melihat keseriusan pemerintah.
Dan malam itu mereka melihat keseriusan tersebut dari langkah seorang bupati yang memilih datang langsung beberapa saat setelah turun pesawat.
Bukan hanya itu.
Pemkab Sidrap juga tengah mematangkan solusi permanen untuk mengurangi risiko banjir di wilayah Amparita. Penanganan jangka panjang mulai disusun agar genangan tidak terus menjadi langganan tahunan masyarakat.
Namun bagi warga malam itu, ada sesuatu yang jauh lebih menghangatkan daripada sekadar rencana teknis.
Yakni rasa bahwa mereka diperhatikan.
Bahwa pemimpinnya tidak menjaga jarak dari penderitaan rakyat.
Bahwa di tengah dingin air banjir, masih ada kehangatan kepedulian.
Dan mungkin memang begitu seharusnya seorang pemimpin.
Bukan yang paling sering berbicara.
Tetapi yang paling cepat datang ketika rakyatnya kesusahan. (*)
Update terbaru: 15 Mei 2026 12:29 WIB
