Kadang-kadang kebahagiaan sebuah daerah tidak datang dalam bentuk pesta.
Tidak ada kembang api.
Tidak ada konvoi.
Tidak ada orang yang berdiri di atas mobil sambil melambaikan tangan.
Kebahagiaan itu datang diam-diam.
Masuk lewat sawah yang panennya lebih baik.
Masuk lewat pasar yang lebih ramai.
Masuk lewat pelabuhan yang lebih sibuk.
Masuk lewat warung kopi yang kursinya semakin penuh.
Lalu suatu hari, semua itu muncul dalam bentuk angka.
Angka yang dirilis Badan Pusat Statistik.
Angka yang sebenarnya hanya hasil akhir dari ribuan aktivitas masyarakat setiap hari.
Petani yang tidak pernah libur.
Pedagang yang membuka toko sejak pagi.
Nelayan yang menantang ombak.
Pelaku UMKM yang terus bertahan.
Sopir yang membawa hasil bumi dari desa ke kota.
Mereka mungkin tidak pernah membaca laporan ekonomi.
Tetapi merekalah yang menulisnya.
Tanpa sadar.
Dengan kerja keras.
Data triwulan pertama 2026 menunjukkan sesuatu yang menarik.
Mayoritas kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan tumbuh kuat.
Sebagian bahkan tumbuh sangat tinggi.
Sinjai menjadi bintang paling terang.
Pertumbuhan ekonominya menembus 11,14 persen.
Angka yang membuat banyak daerah lain menoleh.
Layak diberi selamat.
Bukan karena berhasil mengalahkan siapa-siapa.
Tetapi karena berhasil mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
Prestasi seperti itu tidak muncul dari langit.
Ia lahir dari proses panjang.
Dari sawah yang terus menghasilkan.
Dari aktivitas ekonomi yang bergerak.
Dari kerja yang dilakukan berulang-ulang ketika tidak ada kamera yang menyorot.
Namun yang membuat data ini menarik bukan hanya karena ada satu daerah yang berada di puncak.
Yang lebih menarik adalah banyak daerah ikut tumbuh bersama.
Kepulauan Selayar tumbuh tinggi.
Maros bergerak cepat.
Pangkep menjaga ritme.
Soppeng menunjukkan tenaga.
Gowa tetap kuat.
Palopo terus melangkah.
Bone, Bulukumba, Barru, Luwu, Pinrang, Wajo hingga Luwu Utara ikut mengirim kabar baik.
Seperti sebuah orkestra.
Tidak semua memainkan nada yang sama.
Tetapi seluruhnya menghasilkan musik yang enak didengar.
Sulawesi Selatan sedang memainkan musik itu.
Musik pertumbuhan.
Musik optimisme.
Musik tentang harapan yang menemukan alasan untuk hidup.
Yang menarik, ada satu daerah yang pertumbuhannya persis sama dengan angka provinsi.
Enam koma delapan delapan persen.
Persis.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Kadang posisi seperti itu justru menarik.
Karena ia berada di tengah.
Cukup baik untuk disyukuri.
Cukup menantang untuk terus dikejar.
Dalam dunia pertanian, petani yang baik tidak pernah berhenti setelah satu kali panen berhasil.
Mereka langsung memikirkan musim berikutnya.
Mereka tahu sawah tidak mengenal kata puas.
Begitu pula pembangunan.
Tidak ada daerah yang benar-benar selesai membangun.
Selalu ada jalan yang perlu diperbaiki.
Selalu ada irigasi yang perlu dibenahi.
Selalu ada investasi yang perlu dipancing datang.
Selalu ada anak muda yang membutuhkan pekerjaan.
Karena itu, angka-angka ini seharusnya dibaca dengan cara yang santai tetapi penuh makna.
Dirayakan, iya.
Disyukuri, tentu.
Tetapi yang lebih penting adalah menjaga agar cerita baik ini tidak berhenti di triwulan pertama.
Sebab tahun ini masih panjang.
Kalender masih menyisakan banyak halaman.
Masih ada triwulan kedua.
Masih ada triwulan ketiga.
Masih ada triwulan keempat.
Masih ada banyak kesempatan untuk memperbaiki posisi.
Masih ada banyak peluang untuk menciptakan kejutan.
Bahkan bagi daerah yang saat ini berada di bawah.
Bahkan bagi daerah yang pertumbuhannya belum sesuai harapan.
Bahkan bagi daerah yang masih berjuang keluar dari tekanan.
Karena ekonomi memiliki sifat yang unik.
Ia tidak pernah benar-benar diam.
Hari ini bisa lambat.
Besok bisa melesat.
Hari ini terlihat biasa.
Besok bisa menjadi cerita sukses yang dibicarakan semua orang.
Maka ketika melihat papan pertumbuhan ekonomi itu, sebenarnya yang terlihat bukan sekadar angka.
Yang terlihat adalah wajah Sulawesi Selatan.
Wajah para petani.
Wajah para pedagang.
Wajah para nelayan.
Wajah para pengusaha kecil.
Wajah orang-orang yang setiap hari bekerja tanpa banyak bicara.
Mereka mungkin tidak pernah masuk televisi.
Nama mereka tidak muncul dalam laporan resmi.
Tetapi dari tangan merekalah pertumbuhan itu lahir.
Dan karena itulah, rasanya tidak berlebihan jika mengatakan satu hal sederhana.
Sulawesi Selatan sedang bahagia.
Bukan karena semuanya sudah sempurna.
Bukan karena semua persoalan telah selesai.
Melainkan karena setelah bekerja keras, daerah-daerahnya mulai melihat hasilnya.
Dan bagi masyarakat yang hidup dari kerja, tidak ada kebahagiaan yang lebih indah daripada melihat usaha mereka mulai berbuah.
