Jakarta, Katasulsel.com – Setiap hari, jutaan orang melintasi gerbang perkantoran, rumah sakit, sekolah, pusat perbelanjaan, kawasan industri, hingga permukiman. Di pintu masuk itu, hampir selalu ada seorang satpam yang menyambut, memeriksa identitas, mengatur arus kendaraan, atau sekadar mengangkat portal. Kehadirannya begitu akrab hingga sering kali luput dari perhatian.
Padahal, dalam hitungan detik, keadaan bisa berubah. Sebuah teguran kepada pengendara yang melanggar aturan dapat memicu perdebatan. Keributan kecil dapat berkembang menjadi konflik. Dalam situasi seperti itu, satpam hampir selalu menjadi orang pertama yang berdiri di garis depan.
Dua peristiwa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir kembali mengingatkan publik pada kenyataan tersebut.
Di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, seorang satpam menjadi sorotan setelah berselisih dengan seorang pengemudi mobil. Peristiwa itu viral di media sosial sebelum akhirnya diselesaikan melalui mediasi dan berakhir damai. Di Purwakarta, Jawa Barat, kabar yang jauh lebih memilukan datang dari Waduk Jatiluhur. Seorang satpam ditemukan meninggal dunia, sementara aparat kepolisian masih memburu pelaku dan mendalami motif di balik peristiwa tersebut.
Kedua kasus itu tentu tidak dapat disamakan. Kronologi, latar belakang, dan proses hukumnya berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan satu kenyataan yang sama: profesi satpam menempatkan seseorang pada posisi yang sangat rentan. Mereka adalah pihak pertama yang harus menghadapi risiko ketika ketertiban mulai terganggu.
Ironisnya, pekerjaan satpam sering dipandang sebelah mata. Tidak sedikit yang menganggap mereka hanya bertugas membuka portal atau menjaga pintu masuk. Padahal, ruang kerja mereka jauh lebih kompleks. Mereka harus mampu membaca situasi, mengambil keputusan dalam waktu singkat, meredakan konflik, melindungi aset, sekaligus menjaga keselamatan orang-orang di sekitarnya.
Dalam banyak keadaan, satpam bahkan menjadi pihak yang pertama merespons sebelum aparat penegak hukum tiba di lokasi. Mereka dituntut tetap tenang ketika menghadapi orang yang marah, bersikap tegas tanpa memancing konflik, serta menjalankan aturan meski berisiko menerima intimidasi atau kekerasan.
Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pengamanan Swakarsa menegaskan bahwa satpam merupakan bagian dari sistem pengamanan swakarsa sekaligus mitra Polri dalam membantu penyelenggaraan keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja. Posisi itu menunjukkan bahwa profesi satpam bukan sekadar pelengkap, melainkan salah satu unsur penting dalam menjaga keamanan di ruang publik.
Namun, regulasi tidak selalu mampu menghapus risiko yang mereka hadapi setiap hari. Mereka tetap bekerja bergantian siang dan malam. Tetap berjaga ketika sebagian besar orang beristirahat. Tetap berdiri di depan ketika situasi mulai memanas. Di balik seragam yang dikenakan, ada tanggung jawab besar sekaligus ancaman yang tidak pernah bisa diprediksi.
Karena itu, dua peristiwa yang belakangan menjadi perhatian publik semestinya tidak berhenti sebagai kabar yang viral. Lebih dari itu, keduanya menjadi pengingat bahwa rasa aman yang kita nikmati setiap hari lahir dari kerja banyak orang yang sering kali tidak terlihat. Salah satunya adalah para satpam yang menjaga gerbang, lingkungan kerja, sekolah, rumah sakit, hingga fasilitas umum.
Menghormati profesi satpam tidak cukup diwujudkan melalui ucapan terima kasih. Sikap itu juga tercermin dari kesediaan masyarakat mematuhi aturan yang mereka tegakkan, memperlakukan mereka dengan hormat sebagai sesama manusia, dan memastikan setiap dugaan kekerasan terhadap petugas keamanan diproses secara adil sesuai hukum yang berlaku.
Besok pagi, ribuan satpam akan kembali mengenakan seragamnya. Mereka akan berdiri di gerbang yang sama, menyapa orang-orang yang mungkin tidak pernah mengingat nama mereka. Mereka akan membuka portal, mengatur kendaraan, memeriksa identitas, dan memastikan aktivitas masyarakat berjalan sebagaimana mestinya.
Barangkali kita baru menyadari pentingnya satpam ketika terjadi keributan atau musibah. Selebihnya, mereka hanya menjadi sosok yang berdiri di dekat pintu masuk, hadir setiap hari tanpa banyak diperhatikan. Padahal, di balik seragam itu, ada manusia yang setiap hari menjaga keamanan orang lain, sambil membawa harapan yang sederhana: menyelesaikan tugas dan pulang ke rumah dengan selamat.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
