Oleh: Ismail Suardi Wekke
Redaktur Senior Katasulsel.com
KALAU malam ini Anda lewat di Soppeng, jangan heran kalau pembicaraan di warung kopi tiba-tiba berubah.
Dari harga gabah ke Lionel Messi.
Dari urusan sawah ke final Piala Dunia.
Dari politik ke sepak bola.
Begitulah Piala Dunia.
Ia punya kemampuan yang tidak dimiliki banyak hal lain.
Ia bisa membuat orang melupakan sejenak rutinitasnya.
Termasuk seorang menteri.
Termasuk Puang Supratman.
Di Soppeng, nama itu tidak asing.
Terlalu akrab malah.
Orang lebih sering memanggilnya Puang Supratman dibanding menyebut jabatannya.
Padahal jabatannya sekarang tidak main-main.
Menteri Hukum Republik Indonesia.
Salah satu posisi penting di negeri ini.
Tetapi begitulah kampung halaman.
Setinggi apa pun jabatan seseorang, ketika pulang ke daerahnya, ia tetaplah anak kampung yang dikenal sejak lama.
Tetap Puang Supratman.
Tetap putra Tajuncu.
Tetap orang Soppeng.
Malam ini Puang Supratman tidak sedang memikirkan pasal.
Tidak sedang memikirkan regulasi.
Tidak sedang memikirkan rapat kementerian.
Setidaknya untuk beberapa jam.
Karena pikirannya sedang terbang ke New Jersey, Amerika Serikat.
Ke partai final Piala Dunia 2026.
Ke sebuah pertandingan yang mempertemukan Argentina dan Spanyol.
Dan seperti jutaan penggemar lainnya, Puang Supratman sudah menentukan pilihan.
Argentina.
Saya tidak kaget.
Banyak orang seusianya memang tumbuh bersama generasi pemain-pemain besar Argentina.
Dulu ada Maradona.
Lalu datang Messi.
Dua nama yang bagi sebagian pencinta sepak bola sudah seperti cerita turun-temurun.
Diceritakan dari generasi ke generasi.
Messi sendiri kini sudah tidak muda lagi.
Langkahnya mungkin tidak secepat dulu.
Larinya mungkin tidak lagi seperti saat masih berambut panjang.
Tetapi anehnya, semakin bertambah usia Messi, semakin banyak orang yang ingin melihatnya menang.
Termasuk Puang Supratman.
Mungkin karena orang suka cerita yang indah.
Dan tidak ada cerita yang lebih indah daripada legenda yang menolak selesai.
Sementara itu, di kubu seberang ada Spanyol.
Ada Yamal.
Ada Rodri.
Ada generasi baru yang sedang mengetuk pintu sejarah.
Banyak anak muda sekarang memilih Spanyol.
Masuk akal.
Mereka melihat masa depan di sana.
Mereka melihat kecepatan.
Mereka melihat energi.
Mereka melihat era baru.
Tetapi Puang Supratman tampaknya memilih sesuatu yang berbeda.
Ia memilih pengalaman.
Ia memilih kenangan.
Ia memilih Messi.
Saya membayangkan kalau malam ini ada nobar di salah satu warung kopi di Soppeng, lalu Puang Supratman datang diam-diam dan duduk di pojok ruangan.
Pasti menarik.
Begitu Messi menggiring bola, mungkin semua mata akan mengarah ke layar.
Begitu Argentina menyerang, suara-suara akan meninggi.
Begitu peluang tercipta, kopi bisa saja terlupakan.
Begitulah sepak bola.
Ia membuat orang dewasa kembali seperti anak-anak.
Membuat menteri sama tegangnya dengan petani.
Membuat pejabat sama cemasnya dengan mahasiswa.
Karena di depan televisi tidak ada jabatan.
Yang ada hanya pendukung.
Dan malam ini, dari Tajuncu hingga Jakarta, dari kampung halaman hingga ibu kota, Puang Supratman berada di barisan yang sama dengan jutaan pencinta Messi di seluruh dunia.
Barisan yang percaya satu hal.
Bahwa seorang legenda masih punya satu cerita lagi untuk ditulis.
Entah nanti Argentina juara atau tidak.
Entah nanti Messi mengangkat trofi atau tidak.
Yang pasti, sebelum peluit pertama berbunyi, Soppeng sudah punya wakil resminya di kubu Albiceleste.
Namanya Puang Supratman.
Putra Tajuncu.
Menteri Hukum.
Dan malam ini, seperti banyak orang Bugis lainnya, ia sedang berharap kepada seorang pria kecil bernama Lionel Messi. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
