Oleh: Edy Basri
Saya baru sadar.
Ternyata sepak bola masih lebih hebat daripada politik.
Politik mungkin bisa menyatukan orang yang sebelumnya tidak saling kenal.
Tapi sepak bola tidak. Ia bisa membuat orang yang sudah lama satu barisan mendadak berseberangan, heee..
Setidaknya itu yang terjadi pada dua anak muda Sidrap ini.
Syaharuddin Alrif.
Ia Bupati Sidrap. Juga Ketua Nasdem Sulsel.
Dan Resky Djabir,
Juga, ia seorang politisi Nasdem. Masih NasDem tulen.
Biasanya mereka berada di kubu yang sama.
Kalau ada kegiatan NasDem, ya sama-sama NasDem. Dulu, kini dan ke depannya.
Begitu juga, kalau bicara membangun daerah, ya sama-sama keduanya ingin Sidrap lebih maju.
Kalau ada agenda politik, arahnya sering sejalan.
Tetapi malam ini, sepertinya mereka akan berpisah jalan.
Penyebabnya bukan urusan politik.
Yang membuat keduanya berbeda kubu hanyalah benda bulat bernama bola.
Saya membayangkan suasananya seperti ini.
Syahar duduk santai sambil menunggu kick off.
Di kepalanya hanya ada satu nama.
Messi.
Sudah itu saja.
Bagi penggemar Messi, logika sering kali tidak diperlukan.
Kalau Messi bermain, ya dukung Messi.
Kalau Messi berlari, ya diikuti.
Kalau Messi mengangkat trofi, lebih bagus lagi.
Begitulah kira-kira.
Saya paham perasaan itu.
Sebab ada banyak orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli Argentina.
Mereka hanya peduli Messi.
Kalau Messi pindah ke Mars, mungkin mereka akan mendukung tim Mars.
Syahar tampaknya termasuk kelompok itu.
Kelompok yang percaya bahwa keajaiban masih mungkin terjadi selama Messi masih ada di lapangan.
Di sudut lain ada Resky Djabir.
Anak muda ini rupanya tidak mudah terhipnotis Messi.
Ia memilih Spanyol.
Pilihan yang menurutnya sangat rasional.
Ada Rodri.
Pemain yang wajahnya tenang seperti pegawai bank, tetapi permainannya bisa membuat lawan kehilangan arah.
Ada Mikel Oyarzabal.
Pemain yang sering tidak terlalu dibicarakan, tetapi tahu-tahu namanya muncul di papan skor.
Lalu ada Lamine Yamal.
Nah, ini yang berbahaya.
Anak muda ini membuat banyak pemain senior terlihat seperti sedang mengejar cucunya sendiri.
Larinya cepat.
Dribelnya cepat.
Pikirannya juga cepat.
Kadang saya curiga ia bermain dengan kecepatan internet yang berbeda dari pemain lain.
Karena itulah Resky sangat yakin.
Sangat.
Bukan sekadar optimistis.
Ia percaya Spanyol akan mengangkat piala.
Sementara Syahar tentu percaya sebaliknya.
Dan saya membayangkan betapa panjangnya malam ini bagi keduanya.
Setiap serangan Argentina membuat jantung Syahar berdebar.
Setiap peluang Spanyol membuat Resky berdiri dari kursinya.
Setiap tendangan ke gawang bisa membuat satu orang melonjak kegirangan dan satu orang lagi menepuk jidat.
Begitulah sepak bola.
Ia membuat bupati, pengusaha, politisi, pedagang, petani, sopir, hingga mahasiswa berubah menjadi makhluk yang sama.
Suporter.
Tidak ada jabatan di tribun.
Tidak ada pangkat di depan televisi.
Yang ada hanya harapan.
Dan harapan itu kadang lebih menegangkan daripada hasil pemilu.
Malam ini dunia memang menunggu final Argentina melawan Spanyol.
Tetapi Sidrap punya final versinya sendiri.
Syahar melawan Resky.
Messi melawan Rodri.
Masa lalu melawan masa depan.
Legenda melawan generasi baru.
Besok pagi salah satu pasti akan mengirim pesan singkat.
Mungkin hanya dua kata.
“Cuma bilang.”
Lalu diikuti gambar trofi.
Karena dalam sepak bola, kemenangan terasa lebih nikmat kalau ada teman yang bisa digoda.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
