Oleh: Edy Basri
SAYA mulai curiga.
Semakin muda seorang perwira, semakin besar peluangnya menjagokan Spanyol.
Setidaknya malam ini begitu.
Di saat banyak orang masih terpikat oleh Lionel Messi dan Argentina, AKBP Indra Waspada Yuda justru memilih jalan yang berbeda.
Kapolres baru Sidrap itu berada di kubu Spanyol.
Bukan Argentina.
Bukan Messi.
Pilihannya jelas.
La Roja.
Saya tidak terlalu kaget.
Sebab kalau melihat perjalanan kariernya, Indra memang bukan orang yang terbiasa mengikuti arus.
Itu yang dia bilang ke saya barusan.
Lulusan Akpol 2006 itu pernah bertugas di berbagai posisi penting. Pernah menjadi Kasat Narkoba Polres Sidrap. Pernah pula menjadi Kasat Reskrim. Kariernya kemudian membawanya menjadi Kasubdit Tipikor Polda DIY, lalu dipercaya memimpin Polres Parepare.
Kini ia kembali ke Ajatappareng.
Kembali ke daerah yang tidak asing baginya.
Bedanya, kali ini sebagai Kapolres Sidrap.
Dan sebelum sempat banyak warga mengenalnya lebih jauh, publik sudah mengetahui satu hal.
Kapolres baru ini pendukung Spanyol.
Saya membayangkan malam ini suasananya menarik.
Di banyak warung kopi, nama Messi masih menjadi bahan pembicaraan utama.
Wajar.
Messi sudah seperti lagu lama yang tidak pernah bosan didengar.
Semua orang hafal.
Semua orang tahu ceritanya.
Semua orang pernah dibuat kagum olehnya.
Tetapi Indra tampaknya lebih tertarik pada cerita baru.
Cerita tentang generasi muda Spanyol.
Tentang Rodri yang mengendalikan permainan tanpa banyak suara.
Tentang Mikel Oyarzabal yang sering muncul di saat yang tepat.
Dan tentu saja tentang Lamine Yamal.
Anak muda yang membuat dunia sepak bola bertanya-tanya.
Bagaimana mungkin usia masih belasan tahun tetapi bermain dengan ketenangan seorang veteran?
Saya membayangkan kalau pertandingan ini adalah operasi kepolisian.
Messi mungkin ibarat sosok yang sudah lama masuk daftar perhatian.
Semua orang tahu kemampuannya.
Semua orang tahu bahayanya.
Tetapi Spanyol adalah tim yang datang dengan strategi baru.
Lebih muda.
Lebih segar.
Lebih cepat.
Mungkin itu yang membuat AKBP Indra Waspada Yuda menjatuhkan pilihan.
Karena sepanjang turnamen, Spanyol memang tampil seperti tim yang tahu persis apa yang mereka lakukan.
Mereka tidak banyak drama.
Tidak banyak kegaduhan.
Datang.
Bermain.
Menang.
Lalu pulang.
Austria mereka lewati.
Portugal mereka singkirkan.
Belgia mereka kalahkan.
Prancis mereka tumbangkan.
Empat pertandingan fase gugur.
Empat kemenangan.
Sebuah perjalanan yang membuat banyak orang mulai percaya bahwa trofi dunia akan berlabuh ke Madrid, Barcelona, Sevilla, dan seluruh penjuru Spanyol.
Tetapi sepak bola selalu menyimpan satu masalah.
Masalah itu bernama Lionel Messi.
Karena selama Messi masih berada di lapangan, tidak ada pertandingan yang benar-benar bisa diprediksi.
Dan itulah yang membuat final ini menarik.
Di satu sisi ada Argentina dengan sejarahnya.
Di sisi lain ada Spanyol dengan masa depannya.
AKBP Indra Waspada Yuda sudah menentukan pilihan.
Spanyol.
Tidak ada negosiasi.
Tidak ada mediasi.
Tidak ada restorative justice.
Keputusannya sudah final sebelum pertandingan dimulai.
Kini tinggal menunggu peluit akhir.
Apakah Kapolres baru Sidrap itu akan tersenyum lebar menjelang subuh.
Atau justru Messi kembali membuat jutaan orang yang meragukannya menggeleng-geleng kepala.
Begitulah sepak bola.
Kadang lebih menegangkan daripada laporan hasil penyelidikan.
Karena di dalam sepak bola, tidak semua kasus bisa ditebak hasil akhirnya.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
